Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi -2,2 Persen Tahun Ini

Proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan tahun 2020 dikoreksi menjadi -2,2 persen dari -1,6 persen pada bulan September. Penurunan proyeksi tersebut menunjukkan pemulihan berjalan lebih lambat pada kuartal IV/2020 dan kuartal III/2020.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 18 Desember 2020  |  09:20 WIB
Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi -2,2 Persen Tahun Ini
Karyawati beraktivitas di kantor Bank Dunia, di Jakarta, Senin (9/10). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - World Bank atau Bank Dunia kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini, yang awalnya diperkirakan akan mengalami kontraksi -1,6 persen menjadi -2,2 persen.

Penurunan proyeksi tersebut menunjukkan pemulihan berjalan lebih lambat pada kuartal IV/2020 dan kuartal III/2020 sebelumnya, dikarenakan masih berlanjutnya penerapan pembatasan sosial untuk menahan laju penyebaran Covid-19.

"Proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan tahun 2020 dikoreksi menjadi -2,2 persen dari -1,6 persen pada bulan September," tulis Bank Dunia, Kamis (17/12/2020).

Seperti diketahui, ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 mencatatkan kontraksi sebesar -3,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan -5,32 persen pada kuartal II/2020.

Bank Dunia menyebut, dampak dari krisis masih terus terasa, tercermin dari permintaan dalam negeri masih lemah dibanding sebelum krisis, yang mana pada bulan September berada 2,8 persen di bawah tingkat tahun 2019.

Sejalan dengan itu, angka pengangguran meningkat sebesar 1,8 poin menjadi 7,1 persen dan angka setengah penganggur meningkat sebesar 3,8 persen poin menjadi 10,2 persen pada kuartal ketiga, dibanding tahun sebelumnya.

Kecepatan pemulihan pun tidak merata di semua sektor. Sektor-sektor yang membutuhkan kontak fisik secara intensif, misalnya transportasi, perhotelan, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, manufaktur, mengalami hantaman cukup parah dan hanya sebagian saja yang mulai pulih.

Sementara sektor-sektor yang tidak membutuhkan kontak secara intensif, misalnya keuangan, pendidikan, komunikasi dan telekomunikasi, lebih kuat bertahan.

Di samping itu, sektor-sektor yang bergantung pada permintaan dari luar negeri, seperti pertambangan dan manufaktur, sebagian terlindungi oleh mulai pulihnya perdagangan dan harga beberapa komoditas yang mengalami penurunan pada pertengahan 2020.

Bank Dunia menilai, tindakan moneter yang diambil untuk menghadapi krisis sudah cukup kuat. Program pembelian obligasi Bank Indonesia dalam mata uang lokal yang setara dengan 1,8 persen dari PDB, berhasil membantu mempertahankan stabilitas fiskal dan mendanai defisit fiskal.

Tindakan ini juga telah berkontribusi kepada penurunan jangka panjang hasil penjualan obligasi pemerintah dalam mata uang lokal.Namun, program tersebut juga dinilai memiliki kelemahan dari segi makro-finansial yang perlu dikelola.

Sementara itu, Bank Dunia menilai respon fiskal untuk menyelamatkan nyawa dan pekerjaan serta menstimulasi pemulihan ekonomi sudah berjalan dengan baik.

Belanja publik pda tahun ini telah meningkat secara substansial untuk melawan pandemi dan membantu rumah tangga dan perusahaan untuk bertahan.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan kembali bangkit ke level pertumtumbuhan 4,4 persen pada 2021 dan 4,8 persen pada 2022.

Namun demikian, perekonomian Indonesia dan global masih berisiko tinggi mengalami penurunan, sehingga pertumbuhan diperkirakan mungkin akan turun ke angka 3,1 persen pada 2021 dan 3,8 persen pada tahun 2022 di bawah skenario.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia pertumbuhan ekonomi indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top