Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Frozen Food, Pasar Daerah Pacu Kapasitas Rantai Pendingin

Pelaku industri mencatat kebutuhan akan rantai pendingin yang saat ini tercatat sebesar 12,5 juta m3 belum mencukupi untuk permintaan makanan beku atau frozen food baik untuk siap saji atau siap masak.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 18 Desember 2020  |  16:00 WIB
Ilustrasi: Cold storage. Dalam kurun waktu 2018-2019 ada peningkatan fasilitas rantai pendingin secara global atau sekitar 16,7 persen.  - pwcold.com
Ilustrasi: Cold storage. Dalam kurun waktu 2018-2019 ada peningkatan fasilitas rantai pendingin secara global atau sekitar 16,7 persen. - pwcold.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri mencatat kebutuhan akan rantai pendingin yang saat ini tercatat sebesar 12,5 juta m3 belum mencukupi untuk permintaan makanan beku atau frozen food baik untuk siap saji atau siap masak.

Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni mengatakan saat ini industri baru memenuhi 34 persen rantai pendingin atau cold storage untuk frozen food. Hal ini juga melihat kebutuhan untuk di luar Pulau Jawa yang masih sangat sedikit meski setara dengan permintaan yang belum seramai di Pulau Jawa.

"Kami masih perlu tiga kali lipat lagi untuk mampu memenuhi demand terhadap frozen food saat ini paling tidak di Indonesia harus memiliki 40 juta m3 yang mana tidak perlu dengan kapasitas besar-besar cukup yang kecil seperti di minimarket saat ini," katanya kepada Bisnis, Jumat (18/12/2020).

Meski demikian, besaran tambahan kapasitas rantai pendingin akan tergantung pada permintaan setiap provinsi. Saat ini, baru tiga provinsi yang menyatakan minat pengembangan rantai pendingin sebagai salah satu upaya menjaga ketahanan pangan daerahnya adalah Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Pada prinsipnya pemenuhan peningkatan kapasitas rantai pendingin ini menjadi perhatian pelaku industri yang diharapkan dapat terbidik dalam lima tahun ke depan. Yasni mengemukakan pelaku industri juga telah memiliki perhitungan yang proporsional dalam memenuhi kebutuhan rantai pendingin baik yang berkapasitas besar atau kecil di setiap wilayah.

"Nanti harapannya di luar Jawa akan memiliki hub seperti saat ini contohnya setiap pengiriman buah dari China atau negara lain melalui Tanjung Perak yang mana dinilai paling layak menjangkau selain Jabodetabek juga wilayah Indonesia Timur. Padahal jika memiliki hub di luar Pulau Jawa maka juga akan lebih efisien," ujarnya.

Adapun, pada kurun waktu 2018-2019 ada peningkatan fasilitas rantai pendingin secara global atau sekitar 16,7 persen. Dari kenaikan tersebut hanya dua negara tercatat memiliki kapasitas tertinggi yakni Amerika Serikat (AS) dan China.

AS mencatatkan cold storage 156 juta m3 dan China 131 juta m3, sedangkan Indonesia baru 1/10 China atau 12,5 juta m3.

Sebelumnya, asosiasi mendata produksi rantai pendingin selama Januari-Agustus 2020 telah anjlok sekitar 58 persen secara tahunan menjadi 50.000 ton.

Untuk itu, Hasanuddin menghitung maksimal produksi rantai pendingin pada tahun ini maksimal akan mencapai 80.000 ton. dengan kata lain, produksi rantai pendingin pada akhir 2020 lebih rendah sekitar 52 persen secara tahunan.

Sementara dengan melunjaknya permintaan produk untuk frozen food permintaan pendingin ukuran kecil tersebut meningkat hingga 80 persen. Alhasil, kini rantai pendingin berukuran 300-500 liter hanya berkontribusi sekitar 20 persen dari portofolio produksi industri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pendingin cold storage
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top