Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bangkitkan Kembali Bisnis Properti Komersial, Ini Langkah Hong Kong

Pemerintah Hong Kong menempuh langkah lanjutan untuk membangkitkan kembali bisnis properti wi wilayah khusus China itu.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 25 November 2020  |  16:51 WIB
Gemelap properti Hong Kong pada malam hari./Bloomberg - Paul Yeung
Gemelap properti Hong Kong pada malam hari./Bloomberg - Paul Yeung

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Hong Kong menghapus bea meterai tambahan yang dikenakan pada pembelian properti komersial dalam upaya menghidupkan kembali pasar yang lesu.

Pemerintah akan menghapus bea tambahan untuk properti nonhunian mulai Kamis (26/11/2020), kata Kepala Eksekutif Carrie Lam dalam pidatonya.

Pungutan sebesar 8,5 persen dari nilai properti diperkenalkan pada 2013 untuk mendinginkan pasar yang terlalu panas. Transaksi komersial masih akan dikenakan bea standar 4,25 persen.

Ini bukan pertama kalinya pemerintah meluncurkan langkah-langkah untuk merangsang transaksi di tengah resesi dan pandemi.

Pada Agustus, bank sentral Hong Kong menaikkan rasio pinjaman terhadap nilai untuk properti komersial menjadi 50 persen dari 40 persen untuk memungkinkan pembeli meminjam lebih banyak uang untuk membeli kantor, ritel, dan ruang industri.

Kota ini dulunya adalah salah satu pasar paling aktif di Asia Timur. Nilai transaksi sering memecahkan rekor dunia sebelum datang pukulan ganda protes anti-pemerintah dan aktivitas Covid-19.

Transaksi properti komersial Hong Kong merosot 62 persen sejak awal tahun dari periode yang sama pada 2019, menurut laporan November oleh Real Capital Analytics. Sebagai perbandingan, kawasan Asia Pasifik mencatat penurunan kesepakatan properti sebesar 31 persen untuk periode yang serupa.

Perekonomian Hong Kong baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari resesi. Produk domestik bruto (PDB) turun 3,4 persen pada kuartal ketiga dari tahun sebelumnya, lebih baik dari perkiraan median kontraksi 5,6 persen dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom. PDB naik 3 persen pada kuartal ketiga dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti hong kong

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top