Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Real Estat Singapura Membaik, Kini Muncul Kekhawatiran Baru

Bisnis properti di Singapura, untuk semua subsektor mulai membaik, tetapi sekarang mulai muncul kekhawatiran baru, berdasarkan temuan dari Indeks Sentimen Real Estat yang diterbitkan oleh National University of Singapore Real Estate.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  22:43 WIB
Properti residensial di Singapura./Bloomberg - Wei Leng Tay
Properti residensial di Singapura./Bloomberg - Wei Leng Tay

Bisnis.com, JAKARTA – Keseluruhan sentimen di pasar real estat Singapura membaik pada kuartal III/2020, tetapi sekarang mulai muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya intervensi pemerintah untuk properti hunian swasta.

Perkembangan itu berdasarkan temuan dari Indeks Sentimen Real Estat yang diterbitkan oleh National University of Singapore Real Estate (NUS + RE), yang mewakili Departemen Real Estat dan Institut Studi Real Estat dan Perkotaan di universitas tersebut.

Survei kuartalan tersebut menanyakan 40 hingga 50 eksekutif senior di sektor real estat yang mengikuti dengan cermat denyut nadi di pasar.

Lebih banyak responden prihatin tentang intervensi pemerintah untuk mendinginkan pasar properti residensial dalam 6 bulan ke depan, dengan proporsi melonjak menjadi 19,2 persen pada kuartal ketiga dibandingkan dengan 5,8 persen pada kuartal kedua.

Dalam pernyataan pers pada Kamis (29/10/2020), NUS + RE mengatakan ini merupakan kenaikan secara kuartalan ke lebvel tertinggi di antara faktor risiko sentimen dalam survei terbaru.

Di sisi lain, proporsi responden yang meyakini bahwa pengetatan pembiayaan dan likuiditas di pasar utang akan menjadi faktor risiko potensial dalam 6 bulan ke depan menyusut menjadi 38,5 persen, dibandingkan dengan 46,2 persen pada kuartal sebelumnya.

Hampir semua responden setuju bahwa kehilangan pekerjaan dan perlambatan ekonomi di Singapura dan secara global akan menjadi risiko utama yang dapat mengurangi sentimen pasar dalam 6 bulan ke depan. Beberapa responden mengatakan bahwa faktor risiko ini dapat menekan harga dan penjualan real estat.

Mengenai biaya konstruksi tinggi dan menganggapnya sebagai faktor risiko potensial, terdapat kenaikan proporsi yang lebih besar yaitu 76,9 persen pada kuartal III, naik dari 69,2 persen pada kuartal II.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan singapura

Sumber : The Business Times

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top