Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asosiasi: Harga Daging untuk Industri Telah Normal

Pada akhir semester I/2020, harga daging kerbau mencapai Rp89.500 per kilogram, sedangkan harga daging sapi sekitar Rp85.000 per kilogram.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 17 September 2020  |  20:33 WIB
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Industri daging olahan mendata harga bahan baku di pasaran saat ini sudah mulai turun. Sayangnya, lambatnya penerbitan ijin impor masih menghantui industriawan.

National Meat Producer Association (Nampa) mendata harga daging kerbau di pasar pada semester I/2020 menembus level Rp80.000 karena lambatnya penerbitan ijin impor. Tetapi, saat ini harga daging kerbau telah turun di kisaran Rp55.000.

"Kuncinya adalah di regulator. Kalau ijin tepat waktu harga wajar. Jika yang beli boleh beberapa pelaku usaha, bukan beberapa entitas saja yang akibatnya membuat harga naik," kata Ketua Umum Nampa Ishana Mahisa kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Ishana menyampaikan tingginya harga daging kerbau pada semseter I/2020 disebabkan oleh terlambatnya penerbitan izin impor hingga kuartal II/2020. Selain itu, pembeli daging impor tersebut hanya satu entitas.

Pada akhir semester I/2020, harga daging kerbau mencapai Rp89.500 per kilogram, sedangkan harga daging sapi sekitar Rp85.000 per kilogram. Adapun, Ishana mendata harga yang ditetapkan peternak asal negara impor pada saat itu hanya US$4 atau sekitar Rp60.000 per kilogram.

"Sekarang beberapa ambil, jadi barang [daging kerbau] cukup di pasar. Perlu diwaspadai kejadian seperti awal 2020, [penerbitan izin impor] delay sehingga stok waktu itu tidak ada," katanya.

Sebelumnya, Ishana menyatakan utilitas pabrikan dapat menembus level 80 persen jika pemerintah memberikan ijin pada pabrikan untuk mengimpor bahan baku langsung dari negara asal importir.

Selain itu, sambungnya, penetrasi pasar daging olahan dan serapan daging di dalam negeri oleh pabrikan dapat meningkat, sementara itu harga bahan baku dapat ditekan.

Ishana mendata saat ini penetrasi pasar daging olahan baru mencapai 37 persen, sedangkan serapan daging lokal oleh pabrikan hanya 4 persen.

"Kalau bahan bakunya murah, tentu produknya bisa menjangkau [konsumen] lebih luas lagi. [Selain itu,] kandungan daging dalam produk daging olahan dapat meningkat dengan harga yang masih terjangkau," katanya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor daging daging
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top