Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Apindo: Aktivitas Masyarakat Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III/2020

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2020 terkontraksi sebesar -5,32 persen (year on year/yoy) dibandingkan dengan 5,07 persen pada periode sama tahun lalu, serta menjadi yang terbesar sejak kuartal II/1998, yakni sebesar -7,8 persen.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  18:42 WIB
Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai aktivitas masyarakat menjadi instrumen utama dalam menggerakkan seluruh sektor perekonomian agar harapan pertumbuhan ekonomi negatif tidak berlanjut ke kuartal III/2020 dapat terealisasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2020 terkontraksi sebesar -5,32 persen (year on year/yoy) dibandingkan dengan 5,07 persen pada periode sama tahun lalu, serta menjadi yang terbesar sejak kuartal II/1998, yakni sebesar -7,8 persen.

Menurut Hariyadi, diperlukan upaya luar biasa untuk dapat keluar dari zona resesi saat ini meskipun Indonesia sedikitnya masih diuntungkan dengan tingkat konsumsi dalam negeri yang besar.

"Jadi, kalau ekonomi dijaga kemungkinan lolos dari resesi sangat mungkin," ujar Hariyadi dalam konferensi pers daring, Rabu (5/8/2020).

Perbaikan daya beli masyarakat, lanjutnya, menjadi kunci. Menurut survey Danareksa Research Institute 2020, intensi belanja masyarakat turun, ditunjukkan dengan Indeks Rencana Pembelian yang turun 10,5 persen YoY pada April 2020.

Laporan yang sama menyebutkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga turun ke level 72,6 karena Present Situation Index turun tajam ke kisaran 30 poin, sedangkan Expectation Index relatif stabil di sekitar 90 poin.

"Artinya, orang menahan diri untuk spending. Ada persepsi terhadap penurunan pendapatan di masa mendatang dan efek yang paling parah akan lebih dialami kepada masyarakat berpenghasilan rendah," lanjutnya.

Dia menambahkan, keberlangsungan kegiatan usaha juga bergantung kepada permintaan pasar yang masih buruk akibat penanganan yang tidak maksimal sejak awal. Stimulus, jelasnya, tidak akan mampu menjadi penopang jika permintaan tidak membaik.

Berikutnya, kekhawatiran masyarakat juga terus meningkat akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan PHK yang secara otomatis berdampak kepada daya beli masyarakat.

Menurutnya, terdapat 4 hal yang dinilai mampu menciptakan permintaan di tengah kondisi pendemi Covid-19. Pertama, menciptakan rasa aman bagi masyarakat melalui testing, tracing, dan treatment yang efektif, serta hadirnya vaksin Covid-19.

Kedua, melalui stimulus pemerintah. Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat terdampak Covid-19 menjadi hal penting dalam menciptakan permintaan.

Kemudian, regulasi yang merangsang investasi, seperti misalnya Dana Investasi Real Estat (DIRE) dengan potongan BPHTB dari 5 persen menjadi satu persen. Ketiga, konektivitas. Khususnya transportasi udara yang dinilai sangat penting untuk menciptakan permintaan terutama di sektor pariwisata.

Keempat, pemanfaatan oleh big data. Melalui olah big data dari mesin pencari seperti Google akan terlihat pola permintaan yang dapat ditindaklanjuti dengan penyediaan produk atau jasa terkait dan menyasar target konsumen dengan tepat sasaran.

Pelaku usaha saat ini menjaga keberlangsungan usaha dengan sejumlah cara, di antaranya mendorong pemerintah untuk terus memberikan insentif usaha, efisiensi biaya operasional, penutupan unit-unit bisnis, ekstra hati-hati dalam pengembangan bisnis, dan penggunaan IT secara lebih terencana.

Sejumlah strategi pun telah disiapkan, seperti mengoptimalkan platform digital seperti platform dagang-el dan media sosial untuk meningkatkan penjualan produk; wait and see strategi sembari menunggu peluang atau terjadinya peningkatan permintaan sebelum melakukan aktivitas bisnis.

Kemudian, mengubah model bisnis; menciptakan produk dengan inovasi anyar yang dapat menciptakan permintaan tersendiri, serta memadukan beberapa produk ke dalam satu paket dengan harga jual yang murah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi apindo
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top