Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Kuartal Kedua Dibayangi Kontraksi, Mampukah Indonesia Lolos dari Resesi?

Masih ada peluang ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif, dengan catatan daya beli masyarakat harus diperbaiki, salah satunya dengan percepatan realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN).
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  13:04 WIB
Awan hitam menyelimuti langit Jakarta, Senin (10/12/2018). - ANTARA/Rivan Awal Lingga
Awan hitam menyelimuti langit Jakarta, Senin (10/12/2018). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Indonesia diperkirakan akan terpukul sangat dalam pada kuartal kedua tahun ini, dari capaian kuartal sebelumnya yang tercatat masih tumbuh 2,97 persen secara year-on-year (yoy).

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi memperkirakan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar -3,6 persen secara quater-to-quarter (qtq) atau kontraksi -4,7 persen yoy.

Proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang memburuk serta konsumsi dan investasi domestik masih sangat tertekan pada periode tersebut.

Eric menuturkan, penurunan pada kuartal II/2020 tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki fase resesi teknikal.

"Indonesia sudah mengalami kontraksi secara qtq di kuartal I/2020 dan mengalami hal yang sama di kuartal II/2020. IKS melihat bahwa Indonesia telah memasuki resesi teknikal pada kuartal kedua," katanya kepada Bisnis, Selasa (4/8/2020).

Eric memperkirakan, ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 masih akan mencatatkan pertumbuhan negatif. Menurutnya, sagat berat bagi Indonesia bisa lolos dari resesi ekonomi.

Meski demikian, katanya, masih ada peluang ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif, dengan catatan daya beli masyarakat harus diperbaiki, salah satunya dengan percepatan realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Program PEN tersebut, imbuhnya, lebih baik jika pemerintah memberikan bantuan sosial ke masyarakat dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) sehingga dampak pada ekonomi lebih cepat terasa.

"Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kunci dari sisi demand, kemudian investasi. Pengeluaran pemerintah bisa membantu pertumbuhan, baik secara langsung maupun melalui multiplier effect via konsumsi rumah tangga dan investasi," jelasnya.

Di samping itu, Eric mengatakan sinya pertumbuhan yang lebih baik pada kuartal III/2020 juga terlihat dari sisi ekspor yang diprediksi akan sedikit membaik karena negara tujuan utama ekspor Indonesia mulai membuka sektor-sektor perekonomian mereka.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 akan terkontraksi sebesar -6,09 persen.

"Semua komponen PDB menurun secara signifikan. Konsumsi rumah tangga kami perkirakan akan mengalami kontraksi sebesar -4,63 persen yoy pada kuartal II/2020, sejalan dengan PSBB yang membatasi pengeluaran pribadi," katanya.

Menurutnya, penurunan tajam yang terjadi di kuartal kedua tahun ini dapat menimbulkan risiko resesi bagi perekonomian Indonesia pada 2020, pertumbuhan ekonomi full year 2020 pun diperkirakan akan terkontraksi.

"Kami tetap memperkirakan PDB pada kuartal III/2020 akan kontraksi tetapi dalam tingkat yang lebih rendah daripada pada kuartal II/2020. Kami akan segera umumkan perkiraan revisi pertumbuhan PDB 2020," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi resesi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top