Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sempat Anjlok, Kini Utilitas Industri AMDK Tembus 80 Persen

Utilitas industri air minum dalam kemasan (AMDK) kembali meningkat menjadi 80 persen usai sebelumnya sempat anjlok hingga 50 persen.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  17:26 WIB
Ilustrasi air minum dalam kemasan (AMDK). - Dok. Istimewa
Ilustrasi air minum dalam kemasan (AMDK). - Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Utilitas industri air minum dalam kemasan (AMDK) menunjukkan perbaikan hingga menjadi 80 persen saat memasuki bulan keempat pandemi Covid-19 usai sebelumnya sempat anjlok ke level 50 persen.

Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) mendata pandemi Covid-19 memukul rata-rata utilitas pabrikan ke level 40 persen. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh anjloknya permintaan air minum dalam kemasan gelas.

"Seluruh produsen [AMDK] produksi kemasan kecil [gelas]. Utilitas [industri AMDK] sudah naik lagi. Kemarin kami tertekan sampai [level] 40 persen, sekarang utilitas sudah 80 persen," kata Ketua Umum Aspadin Rachmat Hidayat kepada Bisnis.com, Selasa (7/7/2020).

Rachmat menilai lonjakan utilitas tersebut setidaknya disebabkan oleh dua hal, yakni pelonggaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan membaiknya permintaan AMDK galon.

Menurutnya, pelonggaran PSBB membuat mobilitas masyarakat di perkotaan meningkat. Dengan demikian, permintaan AMDK untuk wilayah perkantoran kembali membaik walaupun belum menyentuh permintaan pra-pandemi.

Jika dibandingkan dengan lini produksi lainnya, Rachmat menyampaikan produksi AMDK galon menunjukkan perbaikan yang paling pesat. Oleh karena itu, lanjutnya, pabrikan akan menjadikan produksi AMDK galon sebagai lokomotif pertumbuhan produksi.

Rachmat menargetkan produksi air minum dalam kemasan (AMDK) hingga akhir tahun menjadi maksimal 5 persen atau menjadi 29,4 miliar liter. Pada awal tahun ini, asosiasi menargetkan pertumbuhan produksi sebesar 10 persen atau menjadi sekitar 31 miliar liter.

Rachmat mendata pandemi Covid-19 membuat produksi air minum gelas turun hingga 40 persen, produksi dan air minum dalam botol turun 30 persen. Penurunan produksi kedua produk tersebut disebabkan oleh minimnya aktivitas konsumen.

Selain itu, Rchmat menyatakan bahwa produksi air minum dalam galon pun turun sekitar 10 persen karena aktivitas perkantoran, hotel, restoran, dan rumah tangga dengan skala ekonomi sosial (SES) menengah bawah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur amdk
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top