Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Importasi Pangan Perlu Dikalkulasi Ulang

Kalkulasi ulang pada importasi pun diperlukan untuk menghindari pasokan yang berlebihan yang berpotensi mengganggu harga di tingkat produsen.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  06:28 WIB
Petani membajak sawahnya menggunakan traktor tangan di Desa Porame, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/4 - 2020). / Antara
Petani membajak sawahnya menggunakan traktor tangan di Desa Porame, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/4 - 2020). / Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Manajemen stok dan kelancaran distribusi pangan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dirampungkan pemerintah di sektor pangan. Kalkulasi ulang pada importasi pun diperlukan untuk menghindari pasokan yang berlebihan yang berpotensi mengganggu harga di tingkat produsen.

Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, perhitungan yang tepat pada komoditas yang sensitif pasokannya perlu dilakukan demi mengindari gejolak harga. Pasalnya, kebutuhan rumah tangga dan industri pada komoditas yang ditopang impor cenderung turun.

"Manajemen stok ini menjadi penting karena lubangnya selama ini di sini. Lemahnya manajemen membuat ketidakpastian di kalangan petani," ujar Enny, Minggu (21/6/2020)

Selain menghitung dengan cermat kebutuhan pangan yang turut ditopang impor, Enny pun menggarisbawahi pentingnya antisipasi ketersediaan pangan pokok yang rentan terganggu kondisi iklim.

Dia menyoroti potensi gangguan produksi pada beras yang amat dipengaruhi siklus tanam dan curah hujan.

"Beras ini sangat sensitif karena posisinya sebagai bahan pangan pokok, kenaikan harga Rp100 saja sangat berpengaruh. Oleh karena itu perlu antisipasi dari sisi ketersediaan," ujar Enny.

Adapun sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memastikan bahwa ketersediaan pangan nasional bakal aman dengan tiga komoditas yang masih ditopang oleh pasokan impor. Komoditas tersebut mencakup daging sapi/kerbau, bawang putih, dan gula pasir.

Dalam proyeksi sampai awal Mei lalu, kebutuhan daging sapi atau kerbau diproyeksi mencapai 354.136 ton selama Mei–Desember dengan pasokan dari dalam negeri 301.044 ton dan rencana impor sebanyak 282.842 ton sehingga neraca bakal surplus 395.362 ton.

Neraca gula pasir pun diperkirakan bakal surplus sebanyak 1,28 juta ton pada penghujung 2020 dengan produksi dalam negeri sebesar 2,3 juta ton dan importasi sebanyak 612.011 ton.

Selain itu, bawang putih pun diyakini bakal surplus 265.284 ton dengan stok awal Mei sebesar 21.227 ton yang akan dipenuhi dengan produksi dalam negeri 17.653 ton dan impor 603.911 ton. Kebutuhan bawang putih selama Mei–Desember diyakini mencapai 377.507 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor pangan petani
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top