Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bikin Bengkak APBN, Program PEN Masih Sepi Peminat

Jumlah alokasi dana kesehatan yang digunakan hanya 1,54 persen dari total senilai Rp87,55 triliun.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  15:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Menkeu mengatakan pemerintah akan mewaspadai ancaman pelemahan ekonomi gara-gara wabah corona di China demi mengejar target asumsi dasar ekonomi makro di APBN 2020. FOTO ANTARA - Puspa Perwitasar
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 di Jakarta, Rabu (19/2/2020). Menkeu mengatakan pemerintah akan mewaspadai ancaman pelemahan ekonomi gara-gara wabah corona di China demi mengejar target asumsi dasar ekonomi makro di APBN 2020. FOTO ANTARA - Puspa Perwitasar

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah paket kebijakan yang ditawarkan pemerintah terkait penanganan dampak Covid-19 ternyata masih sepi peminat.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan penggunaan dana kesehatan, misalnya masih terjadi gap antara realisasi keuangan dengan fisik. Jumlah alokasi dana kesehatan yang digunakan hanya 1,54 persen dari total senilai Rp87,55 triliun.

Selain itu, insentif dunia usaha juga mengalami hal serupa hanya sebanyak 6,28 persen, pembiayaan korporasi 0 persen, UMKM 0,6 persen, dan sektoral atau pemda 3,65 persen.

Satu-satunya alokasi anggaran yang penggunaannya cukup signifikan adalah perlindungan sosial yang mencapai 28,63 persen.

"Kami akan menyosialisasikannya supaya berbagai kebijakan ini optimal," kata Menteri Keuagan Sri Mulyani Indrawati, Selasa (16/6/2020).

Sri Mulyani menambahkan bahwa paket kebijakan PEN dimaksudkan untuk menjaga daya tahan perekonomian dari dampak negatif yang disebabkan oleh pandemi Corona.

Dia juga menegaskan bahwa besaran alokasi dana PEN sangat dinamis tergantung dengan seberapa banyak sektor yang terdampak pandemi.

"Ini nanti kami akan fokuskan di agar semua peraturan dukungan dan skema dukungan bisa beroperasi," jelasnya.

Adapun, jumlah alokasi anggaran untuk penanganan ekonomi nasional (PEN) membengkak menjadi Rp695,2 triliun dari alokasi semula Rp677,2 triliun.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa peningkatan terbesar terjadi pada alokasi anggaran untuk pembiayaan korporasi yang berubah menjadi Rp53,57 triliun.

Dengan perubahan tersebut pos struktur PEN menjadi sebanyak Rp87,55 triliun untuk kesehatan, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, insentif usaha Rp120,61 triliun, UMKM Rp123,46 triliun, pembiayaan korporasi Rp53,57 trilun dan sektoral/pemerintah daerah Rp106,11 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top