Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Laju Inflasi China Melambat pada April 2020, Di Bawah Estimasi Analis

Laju inflasi di China melambat pada bulan April di tengah lesunya aktivitas ekonomi di negara tersebut. Bahkan, aktivitas produksi mengalami deflasi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  10:59 WIB
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi

Bisnis.com, JAKARTA – Laju inflasi di China melambat pada bulan April di tengah lesunya aktivitas ekonomi di negara tersebut. Bahkan, aktivitas produksi mengalami deflasi.

Dilansir dari Bloomberg, Biro Statistik Nasional China mencatat Indeks harga konsumen (IHK) naik 3,3 persen pada April dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, lebih rendah dibandingkan dengan median estimasi sebesar 3,7 persen dan 4,3 persen pada bulan Maret.

IHK inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, melambat menjadi 1,1 persen pada April dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini juga lebih rendah dari IHK bulan Maret yang mencapai 1,2 persen.

Inflasi inti yang lesu menjadi indikasi terbaru bahwa permintaan domestik masih lamban dan kemungkinan akan memberikan lebih banyak dorongan bagi pemerintah untuk meningkatkan langkah-langkah peningkatan pertumbuhan.

Harga daging babi, yang menjadi elemen kunci IHK China dan sumber inflasi karena wabah demam babi sebelumnya, naik 96,9 persen year-on-year, lebih rendah dibanding dengan kenaikan bulan Maret sebesar 116,4 persen yoy.

Sementara itu, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) turun 3,1 persen yoy pada April, lebih dalam dibandingkan proyeksi dalam survei Bloomberg yang mencapai 2,5 persen.

Ekonomi China telah mencatat pemulihan yang stabil namun masih lemah, saat langkah-langkah pembatasan untuk menekan penyebaran virus mulai dicabut. Pemerintah sejauh ini mempertahankan kebijakan stimulus pada level yang rendah.

Beberapa ekonom, termasuk Lu Ting dari Nomura, memperkirakan bahwa paket stimulus besar yang berpusat pada bantuan keuangan akan segera tiba.

Deflasi indeks harga produsen menjadi perhatian yang lebih besar bagi pembuat kebijakan. Turunnya harga produk pabrik, yang terbebani oleh penurunan harga minyak, menyulitkan perusahaan untuk menghasilkan laba dan memperluas bisnis.

Permintaan eksternal yang lebih lemah juga menjadi pertanda buruk bagi proyeksi eksportir.

“Penurunan PPI terkait dengan permintaan yang lemah baik di dalam maupun luar negeri, terutama di luar negeri," kata Liu Xuezhi, analis di Bank of Communications, seperti dikutip Bloomberg.

“Ini juga ada hubungannya dengan penurunan harga minyak dan komoditas lainnya. Tren penurunan PPI kemungkinan akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan, dengan permintaan eksternal tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. IHK yang lebih lambat berarti ada lebih banyak ruang untuk mengadopsi sikap pelonggaran dalam kebijakan makro,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi ekonomi china EKONOMI ASIA
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top