Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Nikel Terdampak Corona

Banyaknya tambang nikel yang tak beroperasi juga dikarenakan para penambang yang tengah menunggu janji pemerintah mengeluarkan aturan tata niaga nikel domestik.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  09:51 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel. - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com,  JAKARTA – Kalangan penambang nikel pesimistis produksi nikel sepanjang tahun ini dapat sesuai yang ditargetkan mencapai 25 juta ton.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambangan Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan merebaknya wabah virus corona (Covid-19) di sejumlah negara termasuk Indonesia turut berdampak pada penambang nikel.

Dia mengungkapkan saat ini tak banyak pelaku usaha yang menambang bijih nikel sehingga produksinya mengalami penurunan.

"Turun banget, malah sekarang hampir seluruh tambang lagi stop produksi, tentu karena dampak virus corona ini juga, semua diam, apalagi statement pemerintah stay at home," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Tahun ini sendiri, produksi tambang bijih nikel ditargetkan mencapai 25 juta ton. Namun, karena adanya wabah Corona, diproyeksikan tak mencapai target tersebut.

Kendati demikian, pihaknya belum dapat membeberkan lebih detail seberapa besar penurunan produksi bijih nikel dari yang ditargetkan ini.

Meidy akan mendata terlebih dahulu Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) produksi nikel beserta perubahannya akibat pandemi Covid-19 ini.

"Perusahaan tambang nikel tengah meliburkan karyawan karena Corona, mereka pada takut," katanya.

Meidy mengungkapkan selain wabah corona, banyaknya tambang nikel yang tak beroperasi juga dikarenakan para penambang yang tengah menunggu janji pemerintah untuk mengeluarkan aturan tata niaga nikel domestik. Beleid ini ditargetkan dapat keluar pada April mendatang.

Aturan tersebut nantinya mengatur ketentuan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel domestik.

"Semenjak ekspor bijih nikel kadar rendah dilarang, penambang banyak yang setop produksi, karena harga nikel yang dijual ke smelter sangat rendah dan smelter hanya mau menerima kadar tinggi 1,7 persen ke atas," ucap Meidy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan Nikel
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top