Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Properti Diprediksi Melambat Jelang Ramadan

Wabah corona yang terjadi di Indonesia diprediksi bakal menambah potensi melambatnya permintaan properti yang biasanya menurun saat menjelang Ramadan.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 29 Maret 2020  |  16:37 WIB
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020). ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020). ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar properti di Indonesia diprediksi tidak akan mengalami perubahan sama sekali di tengah masih adanya ketidakpastian ekonomi akibat wabah corona dan menjelang Ramadan tiba.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan bahwa pasar properti pada Ramadan tahun ini yang jatuh pada April mendatang dinilai masih akan tetap melambat.

"Biasanya memasuki [bulan] puasa sampai 10 hari setelah Lebaran pasar properti akan melambat. Dengan kondisi saat ini mungkin makin melambat," ujarnya pada Bisnis, Minggu (29/3/2020).

Pasar properti sejak beberapa tahun ini mengalami perlambatan hebat menyusul adanya pelbagai peristiwa seperti pemilihan umum hingga sentimen virus corona atau Covid-19 yang hampir memukul semua industri Tanah Air.

Ali menyatakan bahwa di saat kondisi seperti sekarang ini kecenderungan masyarakat lebih teralihkan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif.

Alih-alih membeli rumah, lanjut Ali, masyarakat akan lebih memilih membeli keperluin lain seperti barang kebutuhan pokok dan persiapan hari raya Lebaran setelah Ramadan usai.

Namun, Ali menyatakan bahwa sebagian masyarakat juga dipastikan ada yang mengalokasikan tunjangan hari raya (THR) untuk keperluan pembelian rumah. Untuk itu, pasar properti diharapkan terus bergerak.

"Meskipun ada juga yang menggunakan THR untuk beli rumah tetapi prosentasenya mungkin tidak terlalu banyak. Daya beli harus gak turun, tapi banyak yang menahan terutama investor," tuturnya.

Di sisi lain, Ali juga mengaku bahwa relaksasi Bank Indonesia dalam menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen dari sebelumnya 4,75 persen dinilai belum mampu mengerek permintaan pasar. Lagi pula, suku bunga kredit perbankan juga masih tinggi.

Apalagi, Ali sebelumnya menerangkan bahwa di tengah kondisi seperti saat ini seharusnya pemerintah dan perbankan dapat memberikan stimulus yang lebih tepat sasaran untuk industri properti sehingga beban pengembang dan konsumen berkurang.

Meskipun, dia tetap mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menyiapkan insentif Rp1,5 triliun melalui skema subsidi selisih bunga (SSB) sebesar Rp800 miliar dengan tenor selama 10 tahun dan Rp700 miliar untuk subsidi bantuan uang muka (SBUM).

Selain itu, stimulus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan menerbitkan POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti Ramadan Virus Corona
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top