Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asosiasi Pertekstilan Pesmistis Kecipratan Berkah Ramadhan Tahun Ini

Dia memprediksi lonjakan permintaan Ramadhan 2020 akan diisi oleh produk impor pakaian jadi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 Februari 2020  |  23:52 WIB
Pedagang pakaian jadi di Tanah Abang, Jakarta Pusat. - Reuters/Garry Lotulung
Pedagang pakaian jadi di Tanah Abang, Jakarta Pusat. - Reuters/Garry Lotulung

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pertekstilan Indonesia pesimistis bahwa industri garmen akan mendapatkan berkah jelang Ramadhan tahun ini berupa lonjakan utilitas pabrikan. Biasanya utilitas pabrikan akan melonjak ke level 100% pada 2-3 bulan mendekati Ramadhan.

Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Rakhman menduga hal tersebut disebabkan oleh lonjakan impor pakaian jadi pada akhir 2019. Rizal mencatat lonjakan tersebut terjadi pada produk kaos bukan rajutan, kerudung, baju perempuan, dan produk garmen lainnya.  

"Belum [kelihatan ada peningkatan permintaan]. Kami indikasikan ini sepertinya [akibat impor]. Saya lupa angkanya [naik] berapa persen, tapi itu nilainya US$40 juta pada Januari-Desember 2019," ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.  

Dia memprediksi lonjakan permintaan Ramadhan 2020 akan diisi oleh produk impor pakaian jadi. Pasalnya, tidak ada kenaikan volume impor kain.  

Rizal menduga lonjakan impor pakaian jadi pada Desember ditujukan untuk mengisi lonjakan permintaan mendekati hari raya Idul Fitri. Untuk mengerem arus impor tersebut, Rizal menyatakan pihaknya sedang mengajukan safeguard terhadap produk pakaian jadi. 

Selain itu, dia mengungkapkan pihaknya juga akan melakukan implementasi tindakan non-tarif. Adapun, beberapa tindakan yang sedang diusahakan adalah pemindahan pelabuhan impor.

Dia menilai penerapan standar nasional Indonesia (SNI) akan memakan waktu lama untuk pengesahannya. Rizal menyatakan perlu tindakan taktis dan cepat untuk menyelamatkan industri garmen pada tahun ini. 

"Pindahin [pelabuhan impor] yang jauh, [seperti] di Papua atau Timika. [Kami akan melakukan tindakan] yang taktis  sebelum lebaran sambil safeguard paralel dilakukan," jelasnya.

Rizal mengatakan lonjakan impor pakaian jadi pada akhir 2019 akan berdampak pada pertumbuhan kuartal I/2020 dan sepanjang 2020. Selain itu, menurun atau berhentinya pabrikan kain di China akibat virus corona juga akan berkontribusi dalam revisi pertumbuhan industri garmen 2020. 

Sementara itu, saat ini produk kain lokal telah dilindungi dengan bea masuk tindakan perlindungan sementara (BMPTS). Meskipun demikian, dia mengungkapkan kain impor dari China tetap lebih murah karena sebelum BMPTS harga kain China lebih rendah hingga 20% dari kain lokal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri Industri Tekstil asosiasi pertekstilan indonesia
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top