Impor Barang Konsumsi Bebani Neraca Dagang Desember 2019

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, kinerja ekspor sebagai penyeimbang pada Desember 2019 sebenarnya menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas ekspor dan juga volume ekspor.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  10:24 WIB
Impor Barang Konsumsi Bebani Neraca Dagang Desember 2019
Neraca perdagangan Indonesia per Agustus 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Neraca perdagangan Desember 2019 berpeluang mencatatkan defisit US$410 juta dipengaruhi oleh kecenderungan impor barang konsumsi yang meningkat akhir tahun.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, kinerja ekspor sebagai penyeimbang pada Desember 2019 sebenarnya menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas ekspor dan juga volume ekspor.

“Laju ekspor diperkirakan sebesar -0,74% [yoy] didorong oleh kenaikan harga komoditas secara rata-rata pada periode Desember seperti CPO naik 15,95% [mtm] dan karet alam naik 6,03% [mtm],” jelas Josua kepada Bisnis.com, Senin (13/1/2020).

Dia menyatakan, selain naiknya harga komoditas, volume ekspor meningkat seiring dengan peningkatan aktivitas manufaktur dari seluruh mitra dagang Indonesia misalnya; Uni Eropa, China, Jepang, India, dan Asia Tenggara.

Sementara itu untuk laju impor diperkirakan tetap meningkat menjadi -4,73% (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya meskipun secara bulanan impor diperkirakan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu. Hal ini akibat dari adanya kenaikan harga minyak sebesar 10,68% yang mana mendorong kenaikan impor migas secara bulanan.

“Yang kemudian akan tertutupi kontraksi dari impor nonmigas akibat industri manufaktur Indonesia yang masih dalam kondisi kontraksi dengan Indeks PMI manufaktur di bawah 50,” ujar Josua.

Bisnis.com mencatat berdasarkan Prompt Manufacturing Index (PMI) Kuartal IV/2020 dari Bank Indonesia, industri pengolahan pada kuartal IV/2019 masih berada pada fase ekspansi, meskipun melambat dibandingkan dengan kinerja pada kuartal sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 51,50% pada kuartal IV/2019, lebih rendah dari 52,04% pada kuartal III/2019.

Ekspansi industri pengolahan diprakirakan lebih tinggi pada kuartal I/2020. Hal tersebut terindikasi dari PMI Bank Indonesia pada kuartal I/2020 yang diprakirakan meningkat menjadi 52,73%.

Perkembangan PMI dari BI tersebut juga sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha sektor Industri Pengolahan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), yang menunjukkan realisasi kegiatan usaha sektor Industri Pengolahan yang lebih rendah pada kuartal IV/2019 dan kembali meningkat pada kuartal I/2020. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha Industri Pengolahan pada kuartal IV/2019 tercatat sebesar 0,76%, lebih rendah dibandingkan dengan SBT 3,05% pada kuartal III/2019.

Sementara itu, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha Industri Pengolahan pada kuartal I/2020 tercatat sebesar 1,52%, meningkat dari 0,76% pada kuartal IV/2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top