Ternyata, Sriwijaya Air Kandangkan 2 Pesawat B 737 NG Sejak 11 Oktober!

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro mengatakan, grounded dua pesawat sudah dilakukan maskapai sejak 11 Oktober 2019.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  18:40 WIB
Ternyata, Sriwijaya Air Kandangkan 2 Pesawat B 737 NG Sejak 11 Oktober!
Pesawat Sriwijaya Air di Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. - Bandara Silangit Antara/M. Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA -- Sriwijaya Air Group berharap pihak perusahaan pemberi sewa atau lessor pesawat bisa memberikan kompensasi atas dua unit Boeing 737-800 NG yang kini dikadangkan atau grounded sementara akibat temuan retakan.

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro mengatakan, grounded dilakukan menyusul adanya temuan masalah pada bagian pickle fork. Adapun, grounded sudah dilakukan maskapai sejak 11 Oktober 2019.

"Kalau pesawat tidak bisa beroperasi karena sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan, dan itu menyangkut airworthines directive atau AD [perintah kelaikudaraan] lessor juga paham. Nanti [kompensasinya] kepada lessor," katanya kepada Bisnis.com, Senin (14/10/2019).

Dia menambahkan bentuk kompensasi bisa berupa pengurangan biaya sewa pesawat maupun hal lain. Namun, dia menegaskan detail mengenai kompensasi tersebut belum dilakukan pembahasan lebih lanjut.

Toto menjelaskan kondisi dua unit pesawat tersebut sebelum grounded adalah dalam masa perawatan atau sedang tidak dipergunakan untuk operasional penerbangan. Jadi, prosedur tersebut tidak mengganggu layanan penerbangan maskapai kepada pelanggan.

Sriwijaya diketahui mengoperasikan 22 unit Boeing 737-800 NG. Namun, sejak masa transisi pascakesepakatan kerja sama manajemen dengan Citilink Indonesia, total pesawat yang dioperasikan baru mencapai 18 unit.

Dia mengaku sudah memberikan notifikasi kepada Boeing selaku pihak pabrikan terkait dengan masalah pickle fork tersebut. Saat ini, maskapai milik keluarga Chandra Lie tersebut sedang menunggu petunjuk teknis perbaikan.

Pickle fork merupakan bagian yang menghubungkan badan dengan sayap pesawat. Adapun, setiap pesawat biasanya memiliki empat bagian pickle fork.

Sementara itu Federal Aviation Administration (FAA), seperti dikutip dari Reuters (11/10/2019), sedang bekerja dengan pihak pabrikan dan regulator keselamatan penerbangan internasional lainnya untuk menelaah faktor-faktor yang menyebabkan terbentuknya retakan tersebut.

Sesuai peraturan yang berlaku, pesawat yang memiliki lebih dari 30.000 flight cycle harus diperiksa dalam tujuh hari. Sementara itu, pesawat dengan 22.600 flight cycle hingga 29.999 flight cycle harus diperiksa dalam 1.000 siklus. Siklus ini biasanya sesuai dengan jumlah penerbangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air, boeing

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top