Rencana Pembangunan Tol Pelabuhan II Dikecam Warganet, Ini Kata BPJT

Apabila tidak ada solusi atau malah tidak melakukan apa-apa, Jakarta akan semakin semerawut.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  06:18 WIB
Rencana Pembangunan Tol Pelabuhan II Dikecam Warganet, Ini Kata BPJT
Antrean mobil terjebak kemacetan di jalan tol dalam kota di Jakarta, Senin (6/3). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pembangunan jalan tol pelabuhan II atau harbour road II menuai polemik dari masyarakat yang menilai pembangunan proyek tersebut akan memperparah kemacetan dan tidak ramah lingkungan.

Media sosial diramaikan oleh kecaman masyarakat atas pembangunan jalan tol pelabuhan II. Kecaman ini dipicu dari unggahan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) terkait pembangunannya.

Salah seorang warganet menilai bahwa pembangunan tol itu memperparah kondisi kemacetan dan menimbulkan pencemaran udara yang sangat tinggi. Tidak hanya itu, mereka bahkan berbondong-bondong membuat tagar #tolakharbourroad2.

Meski ditolak, pembangunan jalan tol sepanjang 9,67 kilometer sudah dicanangkan lewat seremoni yang digelar pekan lalu.

Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan bahwa solusi terbaik memang harus dicari karena pembangunan proyek tersebut mengurai kemacetan.

"Solusi memang harus dicari. Ini mengakomodasi through traffic terutama untuk angkutan barang karena pilihan lain adalah tetap stuck in traffic atau rerouting pakai tol JORR 2 atau pakai KA [kereta api] ring road yang sampai sekarang belum terwujud," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (10/10/2019).

Berdasarkan catatan Bisnis, penambahan kapasitas di jalan tol pelabuhan cukup mendesak karena arus kendaraan terus bertambah.

Kementerian Perhubungan sebelumnya melansir bahwa pergerakan truk dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 12.000 unit setiap pekan.

Danang menambahkan bahwa apabila tidak ada solusi atau malah tidak melakukan apa-apa, Jakarta akan semakin semrawut sehingga semuanya harus disikapi dengan bijak.

"Kalau volume capacity ratio sudah lebih dari 0,7 maka perlu capacity expansion atau rerouting atau mode transfer atau memindah aktivitas ekonomi yang mengurangi kebutuhan pergerakan barang," paparnya.

Menurut Danang, apabila arus barang mengalami peningkatan, artinya kebutuhan masyarakat akan barang atau pengiriman barang juga meningkat.

Selain itu, proyek jalan tol pelabuhan II membutuhkan tingkat ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi. Oleh karena itu, BPJT meminta pelaksana kerja dan pengawas kerja bisa mengantisipasi potensi risiko kecelakaan.

Berkaitan dengan pembangunan jalan tol pelabuhan II, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) sudah menandatangani kerja sama konstruksi contractor pre-financing dengan PT Girder Indonesia dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. di Bali pada Oktober 2018.

Jalan tol akan dibangun di atas jalan tol yang sudah ada di lintas Ancol hingga Pluit, bagian dari jalan tol Wiyoto Wiyono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jalan tol, bpjt, cmnp

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top