JELAJAH INFRASTRUKTUR SUMATRA 2019 : Saatnya Pariwisata Pegang Kendali

Selain kaya akan sumber daya alam, sektor pariwisata berpotensi sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi Sumatra, terutama jika didukung oleh infrastruktur jalan dan telekomunikasi yang memadai.
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana - Bisnis.com 24 September 2019  |  18:16 WIB
JELAJAH INFRASTRUKTUR SUMATRA 2019 : Saatnya Pariwisata Pegang Kendali
BISNIS - Rospesta Sitorus

Kehadiran jalan tol di Pulau Sumatra, yang berpangkal dari sisi selatan, diyakini mulai menggeliatkan aktivitas pariwisata. Pemandangan alam Bumi Andalas yang dikenal sangat eksotis, menjadi modal tak ternilai membangkitkan girah sektor turisme ini terus melaju.

Selain kaya akan sumber daya alam, sektor pariwisata berpotensi sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi Sumatra, terutama jika didukung oleh infrastruktur jalan dan telekomunikasi yang memadai. Aneka macam pariwisata pun dapat dikembangkan baik alami maupun buatan, hingga wisata berbasis tradisi seperti ragam kuliner.

Jika industri pariwisata melaju, sendi-sendi perekonomian vital lainnya diperkirakan turut berputar seperti industri kecil menengah (IKM) dan ekonomi kreatif, properti terutama hotel dan restoran, manufaktur, hingga industri keuangan.

Pekan lalu, Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 berkesempatan menjajal beberapa kuliner dan tempat bersejarah di Sumbagsel yang menarik bagi wisatawan.

Di kawasan Lampung, ada satu spot wisata yang sudah cukup tenar bahkan ke mancanegara, terutama di kalangan wisatawan pemburu ombak yakni Krui. Lokasinya berada di Kabupaten Pesisir Barat.

Sebagai daerah pesisir, kawasan ini menyimpan potensi besar pariwisata pantai. Kondisinya yang berbatasan dengan Samudra Hindia membuat ombak di pantai Krui sangat ideal untuk olahraga selancar.

Surga para surfer ini bahkan di beberapa lokasi menjadi tempat untuk kompetisi selancar skala internasional, seperti yang terbaru World Surfing League (WSL) pada akhir April–Mei 2019.

Ketika kami tiba di Krui, Minggu (15/9/2019) sore, tampak belasan peselancar asing yang sedang berkemas seusai bermain-main dengan gulungan ombak. Keesokan paginya, beberapa peselancar dari sejumlah negara Latin datang ke pantai pukul 09.00 WIB mengenakan sepeda motor sewaan.

Selain perlengkapan papan selancar berukuran pendek, T-shirt dan celana pendek, mereka juga sudah mengenakan tabir surya di wajahnya. “I wanna surf, but the wave seems not too good today,” kata salah satu peselancar dari Puerto Rico.

Dia buru-buru meninggalkan lokasi pantai bersama rekan-rekannya lantaran kondisi ombak pada pagi itu tidak cukup tinggi.

Begitu juga dengan rombongan peselancar asal Spanyol. Meski tampak sedikit kecewa, mereka tetap berharap kondisi ombak pada siang hari akan lebih baik.

Sebelum pulang, mereka sempat mengobrol dengan nelayan dan pengepul ikan di tepi pantai sambil mengintip ke arah bakul. “Is there any marlin there? Which one is marlin,” katanya penasaran.

Ya, selain ombaknya, ternyata Krui juga tenar sebagai kota penghasil ikan laut. Salah satu yang paling sering dicari yakni ikan blue marlin. Jenis ikan tersebut bahkan menjadi maskot Lampung Barat dan di kota Krui didirikan tugu yang menyerupai ikan blue marlin.

Menurut sejumlah referensi, sate dan sop ikan tuhuk (nama setempat untuk blue marlin) juga merupakan kuliner yang paling banyak dicari di Krui.

Sumber : Bisnis Indonesia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top