Pangkas Suku Bunga 25 Basis Poin, Gubernur The Fed Soroti Kuatnya Prospek Ekonomi AS

Untuk kedua kalinya tahun ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) menurunkan suku bunga acuannya. Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan langkah kebijakan yang moderat akan cukup untuk mempertahankan ekspansi AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 September 2019  |  08:27 WIB
Pangkas Suku Bunga 25 Basis Poin, Gubernur The Fed Soroti Kuatnya Prospek Ekonomi AS
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk kedua kalinya tahun ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) menurunkan suku bunga acuannya. Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan langkah kebijakan yang moderat akan cukup untuk mempertahankan ekspansi AS.

“Kami mengambil langkah ini untuk membantu menjaga ekonomi AS tetap kuat dalam menghadapi beberapa perkembangan penting dan untuk memberikan perlindungan terhadap risiko yang sedang berlangsung,” ujar Powell pada Rabu (18/9/2019) setelah The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 1,75 persen – 2 persen.

“Pelemahan dalam pertumbuhan global dan kebijakan perdagangan telah membebani perekonomian,” tambahnya, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Imbal hasil Treasury naik dan dolar AS menguat setelah Powell menjelaskan bahwa para pembuat kebijakan tidak memperkirakan akan membutuhkan pemotongan suku bunga yang dalam.

Selama ini, Powell telah menghadapi tekanan tanpa henti dari Presiden Donald Trump untuk mengurangi suku bunga secara besar-besaran.

Tak lama setelah pengumuman suku bunga The Fed pada Rabu, Trump kembali memanfaatkan akun Twitter untuk menumpahkan kekesalannya dengan mengatakan bahwa para pembuat kebijakan lagi-lagi gagal melakukan penurunan dengan lebih besar.

Namun, keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tidak mengubah ekspektasi di antara para pedagang untuk pemotongan lebih lanjut sebesar 25 basis poin tahun ini.

Powell membiarkan terbukanya peluang untuk “rangkaian pemotongan yang lebih luas" jika diperlukan, meskipun juga menekankan bahwa langkah ini bukanlah yang diharapkan para pembuat kebijakan.

Alih-alih, ia menggambarkan situasi saat ini sebagai salah satu "yang dapat diatasi dan harus ditangani dengan penyesuaian moderat terhadap Fed Funds Rate (suku bunga bank sentral)”.

Sementara itu, para pejabat The Fed mempertahankan janji mereka untuk "bertindak selayaknya demi mempertahankan ekspansi".

"Meski pengeluaran rumah tangga telah meningkat dengan laju yang kuat, investasi tetap bisnis dan ekspor telah melemah,” papar FOMC.

Proyeksi triwulanan yang diperbarui menunjukkan pendapat para pejabat terpecah atas perlunya penurunan suku bunga tahun ini.

Lima pejabat tidak ingin mengubahnya. Lima anggota menginginkan pemangkasan sebesar 25 basis poin, sedangkan tujuh lainnya melihat perlunya penurunan lebih besar yakni 50 basis poin sebelum akhir tahun.

Pandangan para pembuat kebijakan terpecah antara mereka yang tidak berpikir pemangkasan diperlukan karena solidnya pengeluaran domestik dan mereka yang khawatir dengan kelesuan global dan inflasi yang terus berjalan di bawah target 2 persen The Fed.

“Pernyataan resmi pascapertemuan dan proyeksi yang diperbarui menunjukkan bahwa dalam skenario dasar mereka, para pembuat kebijakan cenderung tidak secara agresif mengejar stimulus moneter tambahan. Sikap ini sepertinya sulit dipertahankan,” ujar Ekonom Bloomberg, Carl Riccadonna, Yelena Shulyatyeva dan Andrew Husby.

Selain soal suku bunga, ada beberapa perubahan dalam proyeksi median ekonomi oleh The Fed sejak pertemuan kebijakan pada Juni. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan tingkat pengangguran direvisi naik 0,1 poin persentase untuk 2019, sementara perkiraan untuk ukuran inflasi tidak berubah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top