Mengangkat Budaya Lokal dalam Desain Interior Bandara

Pemerintah semakin sadar akan pentingnya desain interior sebuah bandara sehingga semakin banyak bandara yang direnovasi dengan kelas internasional tetapi tetap mengangkat budaya lokal tidak sekaku desain sebelumnya, tuturnya.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 17 September 2019  |  20:29 WIB
Mengangkat Budaya Lokal dalam Desain Interior Bandara
Pesawat Sriwijaya Air, berada di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai gerbang utama masuknya wisatawan baik dalam maupun luar negeri, bandara seolah menjadi etalase.

Desain interior sebuah bandara memegang peranan penting dalam membentuk kesan pertama bagi pelancong yang hadir ke suatu daerah.

Salah satu desainer yang fokus mengembangkan public area, termasuk bandara adalah Lea Aziz yang sudah mulai sejak tahun 1998.

Menurutnya, sepanjang 20 tahun terakhir, telah terjadi perubahan yang signifikan di wajah bandara, terutama dalam 5 tahun belakangan.

“Pemerintah semakin sadar akan pentingnya desain interior sebuah bandara  sehingga semakin banyak bandara yang direnovasi dengan kelas internasional tetapi tetap mengangkat budaya lokal tidak sekaku desain sebelumnya,” tuturnya.

Menurutnya, budaya lokal yang diangkat lebih berupa logo atau icon yang bentuknya tersirat sehingga memberi pesan dan kesan tersendiri. Tak jarang Lea menggandeng para seniman lokal untuk menghadirkan ciri khas budaya setempat.

“Pemerintah saat ini sering menggunakan massage tanpa kata-kata, ini pula yang tertuang dalam desain interior bandara untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki beragam budaya yang indah dan menarik,” ujar Vice President Asia Pacific Space Designer Association (APSDA) ini.

Namun saat ini belum banyak desainer, terutama desainer millenial yang fokus menggarap proyek public area karena berbagai kendala yang kerap dihadapi serta prosesnya yang terbilang cukup rumit.

Mulai dari proses tender yang masih lebih fokus pada harga terendah dibandingkan desain terbaik sehingga para desainer harus bersaing dalam hal pemilihan material yang terkadang malah tidak memenuhi kualifikasi serta bisa membatasi improvisasi dalam berkreasi.

Apalagi untuk proyek pemerintahan ini selalu dipantau oleh BPK [Badan Pemeriksa Keuangan] yang terkadang perhitungan mereka tidak sesuai dengan perhitungan para desainer. 

"Sebab, dalam satu material terkadang BPK tidak menghitung bagian yang tidak terpakai padahal kan kita membeli satu kesatuan. Misalnya 1,7 meter yang dihitung ya 1,7 meter padahal kita membeli bahan 2 meter, ada bagian yang terbuang ini tidak dihitung oleh mereka," ujarnya.

“Kami juga berharap antara fee desainer dengan fee material itu dipisah karena untuk proyek yang jauh itu pasti harga materialnya jauh lebih mahal daripada di Jawa. Kalau digabung, maka fee desainer akan terpakai untuk fee material. Apalagi posisi desain interior saat ini masih di bawah kontraktor atau menjadi sub padahal kalau di luar negeri, desain interior ini posisinya sejajar dengan kontraktor.”

Karena itulah, sambungnya, saat melaksanakana proyek public area atau proyek pemerintah, para desainer biasanya akan lebih idealis dengan tujuan utama lebih untuk membangun negeri tanpa suara dibandingkan dengan mencari keuntungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Desain Interior, bandara

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top