Konstruksi Tol Bengkulu—Lubuklinggau Menunggu Pembebasan Lahan

Kontur lahan yang akan dibangun jalan tol di ruas Bengkulu—Lubuklinggau terbilang menantang karena melintasi Pegunungan Bukit Barisan.
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana
Ropesta Sitorus & Rivki Maulana - Bisnis.com 16 September 2019  |  20:10 WIB
Konstruksi Tol Bengkulu—Lubuklinggau Menunggu Pembebasan Lahan
Bisnis/ilham

Bisnis.com, BENGKULU — PT Hutama Karya (Persero) masih menunggu tahap pembebasan lahan dalam proyek jalan tol Bengkulu—Lubuklinggau sejauh 95,80 kilometer. Jalan tol ini menjadi satu dari tiga ruas Trans-Sumatra yang akan dibangun di koridor Palambang—Bengkulu

Manajer Pelaksana dan Pengendalian Tol Bengkulu—Taba Penanjung PT Hutama Karya Vinjay Endika mengatakan bahwa saat ini tahap penentuan lokasi sudah selesai pada seksi 1 sejauh 17,80 kilometer. Seksi ini menghubungkan Bengkulu dengan Taba Penanjung.

"Yang paling siap seksi 1. Kami masih menunggu pembebasan lahan yang menjadi ranah PPK [Pejabat Pembuat Komitmen] lahan [Kementerian] PUPR dan ATR [Kementerian Agraria dan Tata Ruang]," ujarnya kepada Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019 di Bengkulu, Minggu (15/6/2019).

Berdasarkan ketentuan, tahap konstruksi baru bisa dilakukan setelah lahan sudah dibebaskan. Tahap pembebasan lahan menjadi porsi pemerintah. Dalam tahap ini, badan usaha jalan tol bisa ikut berperan dengan menyalurkan dana talangan tanah yang akan diganti oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Vinjay mengatakan bahwa kontur lahan yang akan dibangun jalan tol di ruas Bengkulu—Lubuklinggau terbilang menantang karena melintasi Pegunungan Bukit Barisan. Dalam pantauan Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019, kontur berbukit ini berada di Kabupaten Kepahiang.

Saat ini, jalan penghubung dari Kota Bengkulu menuju Kepahiang banyak kelokan. Penduduk Bengkulu menyebut jalur itu sebagai "Liku Sembilan". Tim Jelajah memerluka waktu 90 menit saat melewati jalur sepanjang 28 kilometer itu pada Sabtu (14/9/2019).

Dari Taba Pengunjung, trase jalan tol berlanjut ke Kepahiang sepanjang 23,70 kilometer. Arkian (sesudah itu), trase berlanjut ke Lubuklinggau sejauh 54,50 kilometer.

Di lain pihak, kalangan pelaku usaha berharap proyek jalan tol Bengkulu—Lubuklinggau makal memancing kenaikan tingkat okupansi kamar (TPK).

Mien, pengelola Grand Jitra Guest House, mengatakan bahwa keberadaan jalan tol di Bengkulu bakal mempercepat waktu tempuh sehingga bisa mendorong peningkatan kunjungan. Tanpa keberadaan jalan tol pun saat ini industri penyediaan akomodasi cukup menggeliat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa TPK hotel berbintang di Bengkulu mencapai 66 persen pada Juni 2019. Angka itu merupakan yang tertinggi di Sumatra.

Secara keseluruhan, ada 10 hotel bintang dan 180 hotel nonbintang di Bengkulu pada 2018. Jumlah tersebut bertambah enam hotel dibandingkan dengan posisi 2017. Sektor penyediaan akomodasi, makan dan minum di Bengkulu tumbuh 10,16 persen dan menjadi sektor pertumbuhan tertinggi per Juni 2019.

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top