Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Global : Pekan Tersibuk Sepanjang 2019

Pekan ini akan menjadi waktu tersibuk bagi ekonomi dunia sepanjang tahun ini, tidak ada waktu libur musim panas bagi para investor atau pembuat kebijakan di tengah penantian langkah moneter bank sentral Amerika Serikat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  14:30 WIB
New York, AS - istimewa
New York, AS - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pekan ini akan menjadi waktu tersibuk bagi ekonomi dunia sepanjang tahun ini, tidak ada waktu libur musim panas bagi para investor atau pembuat kebijakan di tengah penantian langkah moneter bank sentral Amerika Serikat.

Puncaknya adalah hasil pertemuan FOMC pada Rabu (31/7), yang akan disampaikan oleh The Fed, di mana pasar dan ekonom akan bersama-sama menerka apakah Gubernur The Fed Jerome Powell dan kolega akan memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.

Beberapa pengamat The Fed memperkirakan pejabat bank sentral akan memangkas benchmark hingga setengah poin persentase, namun sinyal yang ditangkap pasar mengisyaratkan akan ada pemotongan yang lebih besar dari perkiraan awal seperempat poin persentase.

Ekonom kawasan AS untuk Bloomberg Economics, Carl Riccadonna, mengatakan bahwa pemotongan suku bunga sebesar seperempat poin tidak akan mengejutkan pasar, karena perkiraan tersebut telah diantisipasi sebelumnya.

"Pertanyaan yang lebih luas adalah bagaimana The Fed menyampaikan pendapatnya terkait pelonggaran yang lebih besar. Pembuat kebijakan ingin menghindari tekanan dari pasar mengenai penurunan suku bunga lebih dari 50-75 basis poin," ujarnya seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (28/7).

Pertemuan bulanan The Fed bukan satu-satunya agenda berpengaruh terhadap prospek ekonomi global yang dinanti pekan ini.

Pada Senin (29/7), Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan melakukan perjalanan ke China untuk melakukan perundingan perdagangan tingkat tinggi antara dua ekonomi terbesar dunia sejak diskusi terhenti pada bulan Mei.

Kemudian pada Jumat (2/8), data gaji bulanan AS akan menjelaskan apakah langkah The Fed sudah tepat. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan akan ada kenaikan 166.000 pekerjaan non-pertanian pada Juli, lebih lambat dari realisasi yang mencapai 224.000 pada Juni.

Di sisi lain dunia, pembuat kebijakan di Bank Sentral Jepang akan melakukan pertemuan pada Selasa (30/7), di tengah seruan untuk memperkuat komitmen mereka pada suku bunga rendah.

Sekitar sepertiga dari ekonom dalam survei yang diterbitkan pekan lalu mengatakan mereka mengharapkan para pembuat kebijakan untuk memperkuat janji mereka untuk mempertahankan suku bunga terendah daripada tidak melakukan apa pun dan mengambil risiko apresiasi tajam terhadap yen seandainya Fed menurunkan suku bunga.

"Meski demikian, beberapa pejabat melihat sedikit yang bisa diperoleh dari strategi semacam itu," ungkap beberapa sumber yang paham dengan isu tersebut.

Di China, Bloomberg Economics memperkirakan indeks manajer pembelian mungkin akan tetap terkontraksi ditengah tekanan eksisiting terhadap eksportir yang bertahan lama.

Di negara lain lain, laporan ekspor Korea Selatan diperkirakan turun selama delapan bulan berturut-turut, mengintensifikasikan kekhawatiran pasar tentang penurunan perdagangan global.

Sementara itu data inflasi untuk Australia, Indonesia, Korea Selatan dan Thailand akan membantu para bankir bank sentral mengambil keputusan.

Pada Kamis (1/8), data manufaktur global akan dirilis di tengah kekhawatiran risiko resesi yang sudah dirasakan oleh sebagian industri.

PEKAN EKONOMI EROPA

Kesibukan juga diantisipasi di Eropa dan zona euro setelah Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi pekan lalu menyampaikan bahwa ECB membuka jalan untuk penurunan suku bunga acuan pada September mendatang serta kemungkinan akan memulai kembali pembelian obligasi.

Data ekonomi yang akan dirilis pada Selasa (30/7), diperkirakan akan menggambarkan penurunan kepercayaan diri zona euro di tengah antisipasi pelemahan ekonomi pada kuartal kedua, yang diproyeksikan akan lebih rendah dari laju pertumbuhan 0,4% pada kuartal sebelumnya.

"Data inflasi yang akan dirilis pada saat yang sama kemungkinan akan menunjukan pertumbuhan harga konsumen mendekam jauh di bawah target ECB yang ditetapkan 2%. Di susul dengan data PMI zona euro yang akan dirilis pada Kamis (1/8)," seperti dikutip melalui Bloomberg.

Pada saat yang sama di London, Bank Sentral Inggris dijadwalkan untuk mempublikasikan proyeksi pertumbuhan terbarunya dengan perkiraan adanya perubahan yang lebih dovish menjelang tenggat waktu Brexit pada 31 Oktober yang semakin dekat.

Bank Sentral Turki juga akan menghadapi pekan yang sibuk dengan agenda publikasi data inflasi kuartalan.

Setelah memangkas suku bunga acuan 450 basis poin pada rapat pertamanya, investor mempertanyakan apakah Gubernur Murat Uysal berbagi keyakinan unkonvensional yang sama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, di mana bunga tinggi adalah penyebab inflasi.

Bank-bank di seluruh wilayah Teluk Persia mungkin akan bergerak untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter jika The Fed memangkas suku bunga acuan seperti yang diharapkan.

Di Amerika Latin, Bank Sentral Brasil diperkirakan akan memotong suku bunga acuan diikuti dengan data output industri Juli yang dapat menjelaskan apakah ekonomi terbesar Amerika Latin itu masuk ke dalam resesi teknis pada paruh pertama tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global Kebijakan The Fed
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top