Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PRICEWATERHOUSECOOPERS : Properti Harus Makin Berorientasi Konsumen

Ada beberapa aturan tak tertulis yang pengaruhnya besar pada kesuksesan pengembangan real estat saat ini.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  12:15 WIB
Sydney, Australia - Istimewa
Sydney, Australia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Sektor properti secara global masih menunjukkan pertumbuhan dan imbal balik yang kuat. Meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala dan banyaknya divestasi dalam setahun terakhir, masih banyak dana mengalir di sektor ini.

Berdasarkan survei PricewaterhouseCoopers (PwC), siklus properti yang terjadi saat ini belum sepenuhnya berbalik, tetapi dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada 2008—2009. Lebih dari 80 persen pemilik real estat percaya diri pada prospek pertumbuhan usahanya hingga 3 tahun ke depan.

“Kepercayaan diri itu umumnya bakal menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Meskipun masih banyak juga yang mengkhawatirkan ketidakpastian kebijakan, seperti Brexit salah satunya, hal itu tidak begitu mempengaruhi aliran investasi ke aset utama,” ungkap Craig Hughes, Global Real Estate Leader PwC UK melalui surveinya, dikutip Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Saat ini, cara “bermain” di real estat sudah berubah. Ada beberapa aturan tak tertulis yang pengaruhnya besar pada kesuksesan pengembangan real estat saat ini.

Pertama, saat ini bisnis real estat harus berkompetisi lebih konsisten sebagai perusahaan yang berorientasi pada konsumen.

Kedua, bahwa sesungguhnya pengisi properti seperti kantor dan ritel sangat peduli akan tempat yang mereka huni untuk bisa makin menarik, mempertahankan usaha, dan meningkatkan produktivitas.

Ketiga, perilaku pengisi properti itu juga yang nantinya memengaruhi pertumbuhan real estat, jika penyewa dan lingkungannya baik, reputasi gedung yang ditempati juga akan ikut terbawa.

Keempat, saat ini kualitas layanan dan infrastruktur serta kualitas bangunan makin dianggap penting dibandingan desain dan luasan ruangan.

Terakhir, yang kelima, risiko cepat usang, seperti pada properti ritel, mulai menjalar ke sektor properti yang lainnya.

“Contohnya kantor, sekarang sudah semakin sulit menyewa karena gedung-gedung mulai sulit beradaptasi dengan kebutuhan yang terus berkembang pada masa modern sekarang ini,” kata Hughes.

Dalam dunia baru, di mana properti menjadi suatu layanan, PwC menuliskan bahwa reputasi brand operator property—dari cara pembiayaan, dampak sosial, lingkungan, dan kesehatan—akan berpengaruh bagi kemampuan pemilik properti untuk makin mudah menarik penyewa, sehingga lebih mudah meraup pendapatan, mengikuti regulasi, dan membayar pajak secara teratur.

“Yang menjadi tantangan di bisnis real estat saat ini adalah bagaimana brand properti kita diketahui orang banyak. Namun, sekarang hubungan dan loyalitas dengan penyewa saja belum jadi prioritas utama di sektor properti,” lanjut Hughes.

Hal itu dinilai dapat membuat suatu brand properti melemah dan kehilangan banyak kesempatan.

PwC menuliskan, tiga dari lima CEO real estat yang disurveinya khawatir bahwa reputasi dan kurangnya kepercayaan konsumen bisa memengaruhi prospek pertumbuhan mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global SURVEI PWC
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top