Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Negara-Negara Ini Berisiko Alami Penggelembungan Properti

Berdasarkan indeks ekonomi dari 57 negara, harga properti hunian baru saja kembali menuju puncaknya, yang terakhir dicapai sebelum krisis keuangan 2008 lalu.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  06:23 WIB
Kota Oshawa di Kanada - wikipedia
Kota Oshawa di Kanada - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA — Perekonomian global yang sedang rentan berpotensi memicu penggelembungan sektor perumahan di beberapa negara. Berdasarkan riset Bloomberg Economics, Kanada dan Selandia Baru mengalami perekonomian paling rapuh dan menyebabkan harga rumah terkoreksi.

Riset itu menunjukkan bahwa Kanada dan Selandia Baru mengalami laju yang tidak stabil jika dilihat dari biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli hunian dibandingkan dengan penghasilan penduduk kedua negara itu, yang juga merupakan tertinggi di dunia.

“Australia, Norwegia, Swedia, dan Inggris juga harus berhati-hati,” kata Niraj Shah, Ekonom Bloomberg Economics dilansir Minggu (14/7/2019).

Hal itu pun sudah memicu reaksi dari pemerintah tiap-tiap negara. Pemerintah Kanada sudah meluncurkan pajak untuk pembeli asal negara asing, sedangkan pembelian dari asing sudah dilarang di Selandia Baru.

Tantangan selanjutnya adalah mengawasi harga properti dan kemungkinannya untuk bisa terus naik, seiring dengan keputusan bank sentral AS dan sejumlah negara yang siap memangkas suku bunga acuannya.

“Ada risiko pelonggaran siklus moneter global bisa memicu penggelembungan perumahan. Sementara para bank sentral fokus menghindar dari penurunan pertumbuhan ekonomi, kebijakan ekonomi yang lebih longgar justru bisa jadi bibit krisis selanjutnya,” lanjut Shah.

Berdasarkan indeks ekonomi dari 57 negara, harga properti hunian baru saja kembali menuju puncaknya, yang terakhir dicapai sebelum krisis keuangan 2008 lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti harga properti bubble properti
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top