Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Apsyfi : Jika Salah Atur Pembatasan Barang Saat Lebaran, Kami Rugi Besar

APSyFI meminta pembatasan angkutan barang selama masa libur panjang Lebaran 2019 diatur lebih berimbang dan mengakomodir berbagai kepentingan.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  11:19 WIB
Apsyfi : Jika Salah Atur Pembatasan Barang Saat Lebaran, Kami Rugi Besar
Ilustrasi - Sejumlah truk berada dalam antrean kendaraan di Jalan Raya Tugurejo, Ngaliyan, Semarang, Jateng, Senin (13/7). Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Jawa Tengah melarang angkutan barang (selain pengangkut sembako, BBM, BBG dan Pos) bermuatan berat seperti truk, kontainer, dan truk gandeng untuk tidak melintas di seluruh ruas jalan mulai H-5 sampai H3 Lebaran. - ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Produsen Serat dan Filament Indonesia (APSyFI) meminta pembatasan angkutan barang selama masa libur panjang Lebaran 2019 diatur lebih berimbang dan mengakomodir berbagai kepentingan.


Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan bahwa pada dasarnya pihaknya sangat mendukung kebijakan untuk mengatur transportasi barang khususnya yang melalui jalan tol terkait prediksi kepadatan arus lalu lintas pada periode libur lebaran.


“Untuk dapat mengakomodir berbagai kepentingan termasuk kepentingan industri, kami harap pemerintah khususnya Kepolisian dan Kementerian Perhubungan dapat tetap bekerja ekstra seperti tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/3/2019).


APSyFI meminta Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk memilah sektor industri dan perdagangan yang sangat membutuhkan transportasi barang pada saat libur lebaran.

Menurutnya, ada beberapa sektor industri yang sangat kritis jika dikenakan pembatasan transportasi karena alasan karakter industrinya yang harus berjalan 24 jam penuh selama 365 hari setahun.


Dia mencontohkan, sektor pembuatan serat yang teknologinya tidak memungkinkan untuk berhenti, dengan sistem silo curah yang hanya bisa menampung bahan baku maksimal 3 hari.


Dia mewanti-wanti, pembatasan transportasi bahan baku lebih dari 2 hari berturut-turut akan mengakibatkan kegagalan produksi dan kerugian ratusan juta dolar AS.


“Jadi kalau tidak bisa disuplai bahan baku lebih dari 2 hari, mesin harus dimatikan selama 1 bulan maka secara total industri hilirnya yaitu industri tekstil dan produk tekstil akan kekurangan bahan baku untuk 1 bulan berikutnya” jelasnya.

Transportasi untuk kepentingan ekspor juga hal lain yang harus diperhatikan pemerintah karena dinegara tujuan ekspor tidak ada hari libur Lebaran 2019. “Ekspor kita akan sangat terganggu jika transporasi dilarang dan pelabuhan tutup selama libur lebaran” imbuhnya.


Tidak hanya pada saat libur tetapi juga memengaruhi kredibilitas produsen dalam negeri di mata pembeli, sehingga Redma mengusulkan agar pelarangan transportasi untuk ekspor dan waktu libur operasional pelabuhan hanya dilakukan 2 hari yaitu pada saat Lebaran saja.

Terkait dengan libur lebaran tahun ini, APSyFI memperkirakan kepadatan puncak arus mudik bisa terjadi pada 31 Mei dan 1 Juni sedangkan untuk arus balik diperkirakan terjadi pada tanggal 8 dan 9 Juni.


Untuk itu, APSyFI mengusulkan agar pelarangan operasional truk barang hanya terjadi pada puncak arus mudik dan arus balik saja. Adapun pada tanggal 3 sampai tanggal 7 bisa diberlakukan aturan pembatasan yang bersifat kondisional buka tutup tergantung kondisi di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

serat sintetis pembatasan angkutan barang
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top