Hunian di Lokasi Wisata? Kenapa Tidak

Upaya pemerintah meningkatkan devisa dengan menyuburkan bisnis pariwisata, menjadi kesempatan bagi pengembang untuk mendulang rupiah dengan membangun hunian di kawasan wisata yang lagi bertumbuh.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  07:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Upaya pemerintah meningkatkan devisa dengan menyuburkan bisnis pariwisata, menjadi kesempatan bagi pengembang untuk mendulang rupiah dengan membangun hunian di kawasan wisata yang lagi bertumbuh.

Pengembangan properti di lokasi wisata kini kian menjadi tren. Selain bisa menambah pendapatan masyarakat di sekitarnya, keberadaan tempat wisata juga bisa menjadi lahan subur bagi pengembang. Namun, selain menyediakan bangunan, pengembang juga harus memperhatikan penyediaan fasilitas.

Agar pengunjung lebih tertarik mengunjungi tempat wisata tersebut, perlu ada akses dan tempat untuk tinggal sementara dengan fasilitas yang memadai.

Selain itu, sebelum membangun hunian di tempat wisata, pengembang perlu mempertimbangkan beberapa hal mulai dari target pasar hingga struktur lokasi yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya bencana.

Head of Advisory Jones Lang LaSalle Vivin Harsanto mengatakan bahwa orang ingin berkunjung ke lokasi wisata karena adanya kemudahan akses.

“Yang harus dipikirkan adalah akomodasi di tempat tersebut, sudah cukup layak atau belum? Ketika sudah ada, seperti di Labuan Bajo, kan baru ada branded hotel, itu bakal menjadi salah satu hal yang menarik orang juga untuk ke sana,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Ketika orang memutuskan untuk berwisata ke suatu tempat pasti juga akan memikirkan di mana tempat menginap, bujet biaya, dan kemungkinan fasilitas yang ada.

Vivin menyebutkan bahwa ada beberapa ide bagi pengembang yang ingin menyasar lokasi wisata, salah stunya membangun hotel kontainer. Selain tahan bencana gempa, pembangunan hotel ini lebih efisien dan unik di mata generasi milenial sebagai salah satu segmen pasar.

“Kalau mau menyasar milenial, bisa bikin kontainer dijadiin hotel, ada bunk bed. Jadi, itu critical point untuk bisa menarik wisatawan. Ini juga melihat dari sisi investasi sendiri kan untuk hotel pada umumnya biayanya enggak murah, kelayakannya juga harus diperhitungkan, itu yang harus lebih dalam kajiannya.”

Sebelum memutuskan membangun tempat menginap wisatawan, menurut Kepala Bidang Riset dan Konsultan Savills Anton Sitorus, pertama-tama, pengembang harus melakukan riset lokasi dan kemungkinan kondisi pasarnya akan seperti apa.

“Itu proses yang sangat mendasar, lokasinya perlu dipelajari dulu, aksesnya bagaimana, kemungkinan bencananya juga sekarang juga perlu diperhatikan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (22/2).

Setelah melakukan riset, nantinya hasil riset bisa membantu pengembang menentukan produk apa yang bisa dikembangkan di lokasi wisata tersebut.

“Setelah riset, kan jadi tahu prospek lokasinya seperti apa, nanti hasilnya kan bisa menentukan jenis properti apa yang cocok di situ. Apakah hotel? Apakah vila? Mana yang cocok untuk strata atau landed? Lebih menguntungkan kalau dioperasionalkan sebagai hotel yang sifatnya recurring income atau apartemen sewa recurring income? Atau, jual putus itu kembali lagi? [Semua] tergantung pada hasil studinya,” lanjutnya.

Di lokasi yang baru menjadi tren Raja Ampat dan Labuan Bajo, kata Anton, untuk tahap awal yang dibutuhkan lebih ke produk penginapan seperti hotel atau resor.

Adapun, pengembang juga perlu mempertimbangkan fasilitas lainnya seperti infrastruktur yang tidak selamanya menjadi beban pemerintah.

“Sekarang, misalnya, orang mau pergi ke wisata, kalau hotelnya enggak ada yang memadai kan malas ya. Kalau ditanya kawasan terpencil bangun hotel apakah masih menarik ya, balik lagi ke hasil studinya, bangunannya bentuknya seperti apa juga tergantung lagi sama hasil studinya,” tambah Anton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti pariwisata

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top