RISED: Rencana Kenaikan Tarif Ojol Bisa Pangkas Permintaan Hingga 71%

Hasil survei konsumen yang digelar Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menemukan hasil mayoritas konsumen ojek online sangat sensitif terhadap segala kemungkinan kenaikan tarif.
Rinaldi Mohammad Azka | 11 Februari 2019 14:06 WIB
Pengendara sepeda motor menggunakan aplikasi GPS (pelacak jalan) di gawainya saat berkendara di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA -- Hasil survei konsumen yang digelar Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menemukan hasil mayoritas konsumen ojek online sangat sensitif terhadap segala kemungkinan kenaikan tarif.

Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara mengatakan konsumen ojek online (Ojol) sangat sensitif terhadap segala kemungkinan peningkatan tarif. Selain itu, rencana adanya kenaikan biaya Ojol diprediksi akan lebih banyak berdampak negatif.

“Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12%,” terangnya, Senin (11/2/2019).

Hasil survei menyebutkan 45,83% responden menyatakan tarif Ojol yang ada saat ini sudah sesuai, dengan 28% responden lainnya mengaku bahwa tarif Ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal.

Bila ada kenaikan tarif, dia  memaparkan sebanyak 48,13% responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000 per hari. Ada juga sebanyak 23% responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali.

Dari hasil survei yang dilakukan RISED diketahui bahwa jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km per hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.200 per km menjadi Rp 3.100 per km (atau sebesar Rp 900/km), maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp7.920 per hari.

“Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan yang hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Total persentasenya mencapai 71,12%,” ujar Rumayya.

Menurutnya, permintaan konsumen akan turun drastis sehingga berpotensi menurunkan pendapatan pengemudi ojol dan meningkatkan frekuensi masyarakat menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas sehari-hari sehingga dapat menambah kemacetan.

Survei tersebut melibatkan sebanyak 2.001 responden konsumen pengguna Ojol dari 17 provinsi dengan mayoritas konsumen berasal dari wilayah Jabodetabek sebagai daerah urban. Survei ini dilakukan menjawab dampak dari berbagai kemungkinan kebijakan terkait ojol dan respon konsumen terhadapnya.  

Tag : ojek online
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top