LAPORAN DARI WASHINGTON: Masa Emas Industri Gas Segera Tiba

Jonan memprediksi peningkatan konsumsi gas di Indonesia diprediksi mencapai 6%-7% per tahun, atau di atas pertumbuhan ekonomi. Namun, Indonesia tak harus menjadi importir gas di masa depan menyusul ditemukannya sumur gas baru.
Hery Trianto | 28 Juni 2018 17:21 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan menjadi pembicara utama dalam World Gas Conference (WGC) bertema What Next for The Asia Pacific Gas Market di Washington DC, Rabu (27/6/2018) siang. (Hery Trianto - Bisnis).

Bisnis.com, WASHINGTON, AS — Masa emas industri gas dunia diprediksi akan segera tiba menyusul beralihnya konsumsi bahan bakar yang dianggap kurang ramah lingkungan kepada gas alam.

Berdasarkan proyeksi, Amerika Utara, terutama AS akan menjadi pemimpin gas dunia dengan produksi yang melimpah.

"China akan beralih ke energi yang lebih hijau yaitu gas, dan mengurangi batu bara. Penggunaan kendaraan listrik di dunia juga akan mengubah pasar energi dunia karena makin banyak pembangkit listrik menggunakan gas,” tutur Nobuo Tanaka yang Chairman The Sasaka Peace Foundation dan mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) saat menjadi moderator diskusi bertema What Next for The Asia Pacific Gas Market, di arena World Gas Conference (WGC), Washington DC, Rabu (27/6) siang.

WGC merupakan event 3 tahunan yang diselenggarakan oleh negara yang memegang tampuk presidensi International Gas Union. Di Washington, acara ini merupakan konferensi ke-27 setelah tiga tahun lalu digelar di Paris, Prancis.

WGC dihadiri oleh pemimpin berpengaruh bidang energi, pengusaha dari berbagai negara, maupun anggota senat dan kongres Amerika Serikat. Diperkirakan 12.000 peserta hadir termasuk 600 pembicara, 600 organiasi dalam 100 sesi diskusi.

Diskusi pasar gas Asia Pasifik menampailkan Menteri ESDM Ignasius Jonan sebagai pembicara utama. Adapun panelis lainnya seperti Anuar Taib EVP & CEO Upstream Petronas, dan Li Yalan, Chairman of Board of Director Beijing Gas Group.

Dalam paparannya, Jonan memprediksi penggunaan gas sebagai sumber energi primer makin meningkat. Di Indonesia, peningkatan konsumsi gas diprediksi mencapai 6%-7% per tahun, atau di atas pertumbuhan ekonomi.

Namun, dia optimistis Indonesia tak harus menjadi importir gas di masa depan menyusul ditemukannya sumur gas baru seperti di laut dalam Selat Makassar maupun Blok Masela di Maluku. Saat inipun dengan produksi harian gas 1,2 juta barrel setara minyak, hanya 60% yang digunakan untuk konsumsi domestik.

Adapun prediksi atas China dikuatkan Li Yalan. Dia mengatakan konsumsi gas di China akan meningkat signifikan didorong oleh bertambahnya jaringan pipa dari 70.000 kilometer menjadi 100.000 kilometer pada 2020.

Selain itu, China memiliki 18 terminal liquid natural gas (LNG) dengan kapastias 60 juta meter kubik per tahun. “Dengan ekspansi dan pengembangan, 18 terminal itu akan memiliki kapasitas 80 juta ton pada 2020,” tuturnya.

Konsumsi gas terus meningkat itu juga terjadi sejalan dengan langkah China mengurangi konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik. Misalnya dari sebuah PLTU skala besar yang memerlukan batu bara 35 juta ton per tahun menjadi hanya sepertujuhnya yakni 5 juta ton.

“Pada 2020, porsi penggunaan gas alam dalam bauran energi China harus meningkat dari 7% per tahun menjadi 10% per tahun dengan total komsumsi gas mencapai 300 Bcm,” kaya Li Yalan.

Tahun lalu, IEA telah memprediksi penggunaan gas alam akan menyalip batu bara pada 2030 sebagai sumber energi kedua terbesar di dunia. Pada 2040, konsumsi gas diperkirakan menyamai penggunaan minyak sebagai sumber energi terbesar.

Tag : migas, ignasius jonan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top