Ini Rencana Detail Konstruksi PLTA Kayan Milik Inalum di Kalimantan Utara

PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) memastikan hendak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan Utara, sekaligus jaringan transmisi sepanjang 200 kilometer (km) guna mendukung rencana pendirian smelter aluminium di wilayah tersebut.
Hery Trianto | 20 Mei 2018 14:42 WIB
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara berupaya mempercepat penerbitan seluruh izin yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTA Sungai Kayan. - Kemendagri

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) memastikan hendak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan Utara, sekaligus jaringan transmisi sepanjang 200 kilometer (km) guna mendukung rencana pendirian smelter aluminium di wilayah tersebut.

Rencana ini terungkap dalam presentasi Prospek Pengembangan Smelter di Kalimantan Utara yang disampaikan Direktur Pengembangan Usaha Inalum Oggy Achmad Kosasih dalam acara buka puasa bersama dengan media, Jumat (18/5/2018) malam.

Menurut Oggy, rencana pembangunan smelter aluminium dengan kapasitas 500.000 ton per tahun tersebut memerlukan listrik 767 megawatt (MW) dan gas 3.341 MMBTU per hari. Rencananya, Inalum akan membangun PLTA dengan kapasitas 850-1700 MW.

“Industri peleburan aluminium memerlukan listrik yang kontinyu, stabil, andal, dan murah. Kami juga memiliki pengalamanan dalam operasional PLTA untuk operasional smelter,” tuturnya.

Dalam rencana Inalum, studi kelayakan pembangunan PLTA Kayan sudah mulai dilakukan pada 2017. Bila semua lancar, perusahaan ini akan mulai kontruksi pada 2019 sehingga bisa mendukung produksi smelter pada 2024.

Smelter tersebut terdiri dari pabrik wire rod dengan kapasitas 100.000 ton per tahun, pabrik billet dengan kapasitas 100.00 ton per tahun, serta pabrik alloy dengan kapasitas sebesar 300.000 ton per tahun. Untuk smelter Kaltara ini, menurut Dirut Inalum Budi G. Sadikin, perusahaan mengalokasikan investasi US$1 miliar atau Rp14 triliun.

Sungai Kayan, di Kabupatan Bulungan Utara, sejauh ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi PLTA dengan kapasitas 6.080 MW. Bahkan, untuk seluruh wilayah Kalimantan Utara termasuk Mentarang, Bahau, Malinau, dan Sembakung terdapat potensi hingga 10.830 MW.

Sejauh ini, proyek listrik di Sungai Kayan juga diincar oleh perusahaan swasta bekerja sama dengan investor China.

Pada kesempatan yang sama, Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan hilirisasi bauksit merupakan hal yang sangat mendesak bagi Indonesia. Dia mengatakan Indonesia memiliki cadangan bauksit terbesar ketujuh di dunia, tetapi merupakan eksportir terbesar di dunia.

“Hilirisasi inti memang berbiaya besar, tetapi harus kita lakukan. Makanya saya mendorong Inalum untuk melakukan ini. Sebagai contoh, dari bauksit yang diolah menjadi slab untuk bahan kereta ringan atau kereta bawah tanah, nilai tambahnya bisa mencapai 32 kali lipat,” sebut Rini.

Menurutnya, dengan membawa industri mineral ke hilir, menjadi kesempatan Indonesia lebih kompetitif. Dengan syarat harus bisa melakukan hingga produksi akhir.

Kehadiran pabrik smelter Inalum di Kalimantan utara, lanjut Oggy, akan menyerap sedikitnya 1.700 tenaga kerja. Selain listrik dan prabrik, Inalum juga hendak membangun pelabuhan bersinergi dengan BUMN lain serta mendorong terbentuknya kawasan industri oleh pihak swasta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inalum, plta

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top