Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hitung Stok Ikan Tuna, RI Perlu Restu 2 Lembaga Internasional

Penghitungan potensi lestari (maximum sustainable yield/MSY) ikan tuna Indonesia ternyata tidak segampang komoditas perikanan lain.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 20 Juli 2016  |  18:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Penghitungan potensi lestari (maximum sustainable yield/MSY) ikan tuna Indonesia ternyata tidak segampang komoditas perikanan lain.

Peneliti Utama Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Wudianto mengatakan kajian kandungan stok ikan tuna di laut Indonesia dilakukan bersama dua otoritas perikanan internasional. Di wilayah barat melalui Indian Ocean Tuna Commission (IOCT), sedangkan untuk perairan timur via Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC).

“Tuna kita tidak pernah hitung sendiri karena tunanya migrasi ke sana-ke mari. Tuna yang di Sumatra kadang lari di Madagaskar dan sebaliknya,” katanya usai Workshop Marine Ocean Wealth di Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Wudianto menjelaskan negara anggota dua lembaga tersebut akan menghitung total MSY dengan metodologi yang telah disepakati. Kemudian, MSY akan didistribusikan ke tiap-tiap negara.

“Perhitungan itu tergantung akurasi data. Kalau kita lebih akurat lebih bagus,” tuturnya.

Atas alasan itu, Wudianto mengatakan pemerintah tidak pernah menghitung MSY ikan tuna berdasarkan Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI). Dengan kekhususan ikan pelagis itu pula, dia menilai secara ilmiah tidak tepat jika MSY seluruh komoditas perikanan digabungkan.

“MSY seharusnya jangan dijumlahkan antara tuna, udang, atau cumi. Kalaupun ada disebut MSY total sekian ton itu untuk gampangnya saja,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti akan merilis data terbaru MSY perikanan Indonesia. Terakhir, stok ikan lestari diterbitkan pada Agustus 2011 di masa Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad lewat Kepmen No. 45/2011 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan di WPP-RI.

Dalam beleid itu disebutkan MSY 11 WPP-RI sebanyak 6,52 juta ton. WPP-RI 711 yang meliputi Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan merupakan perairan yang menyimpan potensi ikan terbesar yakni 1,06 juta ton atau 16% dari total MSY Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top