Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bulog Hentikan Pembelian, Petani Bawang Merah Nganjuk Kecewa Berat

Petani di Nganjuk kecewa berat karena bawang merah mereka tidak diserap Bulog sesuai kesepakatan. Akibatnya, stok komodiyas mereka menumpuk.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 03 Juni 2016  |  21:10 WIB
Bulog Hentikan Pembelian, Petani Bawang Merah Nganjuk Kecewa Berat
Petani bawang merah memasuki panen raya. - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, KEDIRI - Petani di Nganjuk kecewa berat karena bawang merah mereka tidak diserap Bulog sesuai kesepakatan. Akibatnya, stok komodiyas mereka menumpuk.

Ketua Asosiasi Penangkar Benih Bawang Merah Nganjuk Bambang Suparno mengatakan Bulog sejauh ini hanya menyerap Rp500 ton dari total volume yang disepakati 2.000 ton.

Padahal, beberapa kelompok petani telah mengumpulkan bawang merah untuk memenuhi permintaan Bulog. BUMN pangan itu diminta oleh Kementerian Pertanian membeli bawang merah dari Nganjuk Rp20.000 per kg untuk dibawa ke Jakarta guna menurunkan harga di Ibu Kota.

Kerugian juga dialami pengepul karena mereka telanjur membayar uang muka kepada petani. "Jujur, masalah ini melukai petani," ungkap Bambang saat dihubungi dari Kediri, Jumat (3/6/2016).

Sebanyak 25 ton bawang merah yang telah dikumpulkannya pun tak diserap. Bulog berhenti saat telah menyerap 60 ton. Menjadikannya bibit pun tidak mungkin karena sudah dalam bentuk rogolan. Daripada membusuk, Bambang akhirnya menjual bawang merah itu ke beberapa tempat, a.l. ke Semarang.

Bambang tidak dapat menerima tudingan Bulog bahwa petani curang. Petani disebut mencampur bawang kering dengan bawang basah sehingga cepat membusuk setelah tiba di Jakarta.

Menurutnya, sejak awal pemerintah dalam MoU itu hanya mematok harga tanpa menentukan kualitas bawang. Padahal, kualitas bawang bermacam-macam.  "Jadi, ini bukan salah petani. MoU-nya yang tidak jelas, tidak menentukan kualitasnya seperti apa, tingkat kekeringannya seperti apa," ungkapnya.

Di sisi lain, Bulog tidak siap dengan fasilitas penyimpanan. Pasarnya pun tidak disiapkan, sedangkan bawang merah dalam 4 hari setelah tiba di Jakarta harus diserap pasar setelah diangkut dua hari dari Nganjuk menggunakan truk. Karena tak segera diserap pasar, bawang merah membusuk.

Petani, tutur Bambang, justru dirugikan sejak penyerapan masih berlangsung. Saat pembelian oleh Bulog telah mencapai 300 ton, perusahaan pelat merah itu tiba-tiba memangkas pembayaran menjadi Rp18.540 per kg dengan alasan kena pajak penghasilan.

Dia menuturkan petani sejauh ini meminta bantuan asosiasi di pusat untuk meneruskan keluhan ke Bulog dan Kementerian Pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Agoes Soebagijo melalui pesan singkat mengemukakan instansinya hanya memfasilitasi Bulog dan petani. Dinas Pertanian, kata dia, hanya menunjukkan petani yang menyediakan bawang merah. "Yang menentukan lanjut atau tidak adalah Bulog," ujar Agoes.

Adapun Kepala Subdivre Perum Bulog Kediri Wahyu Sutanto belum dapat memberikan keterangan. Wilayah Subdivre Bulog Kediri mencakup Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Nganjuk.

Produksi bawang merah Nganjuk, produsen terbesar kedua di Indonesia setelah Brebes, tahun ini diperkirakan 164.648 ton, meningkat 33% dari pencapaian tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulog bawang merah nganjuk
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top