Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DPR: Mana Roadmap Revitalisasi Pabrik Gula BUMN?

Tim Panitia Kerja (Panja) Gula Dewan Perwakilan rakyat (DPR) mendesak pabrik gula BUMN untuk menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri gula nasional.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 28 Maret 2016  |  16:46 WIB
Pabrik Gula - Antara
Pabrik Gula - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Tim Panitia Kerja (Panja) Gula Dewan Perwakilan rakyat (DPR) mendesak pabrik gula BUMN untuk  menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri gula nasional.

Pasalnya, Tim Panja menilai pabrik-pabrik gula milik BUMN belum memiliki rencana spesifik untuk dapat menjadi tonggak produksi gula.

Hal ini, menjadi alasan utama ditangguhkannya penyertaan modal negara (PMN) untuk pabrik gula BUMN.

Wakil Ketua Panja Gula DPR Abdul Wachid menyampaikan alam rapat pembahasan PMN terakhir, PG BUMN dinilai belum siap untuk dapat menerima PMN karena belum memiliki peta rencana jelas dalam upaya pengembangan kapasitas industri gula lokal.

“Roadmap-nya harus jelas, kalau jelas, bisa kami rekomendasikan dana PMN-nya. Kalau tidak ada roadmap-nya, kesannya justru seperti dipaksakan. Kami sudah tanyakan semua PTPN itu, mereka belum ada persiapan sama sekali,” jelas Wachid saat dihubungi Bisnis, Senin (28/3).

Wachid menyampaikan DPR perlu berhati-hati dalam mengetok palu penyaluran PMN untuk perusahaan-perusahaan BUMN.
Pasalnya, belum lama ini negara pun memutuskan untuk menyusutkan alokasi APBN.

Sementara itu, Senior Advisor Centre Agriculture and People Support (CAPS) Yadi Yusri Yadi menyampaikan pabrik-pabrik gula milik BUMN pada dasarnya telah memiliki peta rencana pengembangan, namun masih perlu diintegrasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.

Yadi menjelaskan persoalan industri gula sebaiknya tidak hanya diserahkan pada perusahaan-perusahaan gula milik pemerintah namun juga diselaraskan dnegan program-program dari kementerian terkait seperti Kementerian BUMN, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian.

“Sebenarnya beberapa pabrik gula BUMN sudah menyusun roadmap untuk menyimpulkan apakah perlu direvitalisasi atau tidak. Seharusnya ada campur tangan pemerintah, integrasi dengan kementerian terkait. Harusnya ini ditangani Menko [Bidang Perekonomian],” ungkap Yadi yang sempat bertugas di PTPN X.

Adapun, sebagian besar pabrik gula milik BUMN tergolong tidak efisien karena telah beridiri sejak jaman Belanda. Hal ini menyebabkan rendemen tebu tidak maksimal saat diproduksi.

Selain itu, Yadi mencatat produktivitas gula nasional pun tergolong stagnan di level 4,9-5,9 ton per hektare.

Data AGI mengungkapkan saat ini Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gula terbesar dunia, dengan impor per tahun rata-rata 3,5 juta dan 96,3% di antaranya merupakan gula mentah untuk kebutuhan industri.

Konsumsi total gula nasional adalah 5,3 juta ton per tahun.

Adapun, dalam tiga tahun terakhir produksi gula kristal putih atau gulakonsumsi berkisar 2,5-2,6 juta ton dari total 62 pabrik gula.
Sebanyak 53% produksi berasal dari pabrik gula milik BUMN yang rata-rata dibangun pada masa kolonial dengan kapasitas kurang dari 4000 TCD (tons of can per day).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr ri revitalisasi pabrik gula
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top