Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

URBAN FARMING Tekan Kelangkaan Hortikultura

Pemerintah berencana menggencarkan pertanian kota (urban farming) sebagai langkah antisipasi meroketnya harga komoditas hortikultura di dalam negeri menjelang datangnya bulan puasa Ramadhan dan pergantian rezim pemerintahan pada paruh kedua tahun ini.
Arys Aditya
Arys Aditya - Bisnis.com 22 April 2014  |  18:00 WIB
Untuk menggencarkan urban farming tidak bisa cepat karena pemilik lahan tidak bisa mengakses bibit atau menangani hama.  - urbdp598.wordpress.com
Untuk menggencarkan urban farming tidak bisa cepat karena pemilik lahan tidak bisa mengakses bibit atau menangani hama. - urbdp598.wordpress.com

Bisnis.com, BEKASI—Pemerintah berencana menggencarkan pertanian kota (urban farming) sebagai langkah antisipasi terhadap meroketnya harga komoditas hortikultura di dalam negeri menjelang datangnya bulan puasa Ramadhan dan pergantian rezim pemerintahan pada paruh kedua tahun ini.

Hal ini juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga yang tidak wajar dari tanaman hortikultura itu, seperti cabai rawit merah yang sempat berada di harga Rp10.000 dan Rp100.000 per kilogram, akibat masalah distribusi tidak konsistennya produksi komoditas itu sepanjang tahun.

Kementerian Pertanian mencatat, pada 2013 produksi ragam cabai Indonesia mencapai 1,72 juta, dengan rincian, produksi cabai keriting dan besar 1,03 juta ton, sementara cabai rawit hijau dan merah sekitar 689.000 ton.

“Makanya kalau ibu-ibu di perumahan mau tanam sekarang, pas bulan puasa nanti bisa panen, jadi sekalian mengurangi pengeluaran keluarga dan inflasi tinggi,” tutur Menteri Pertanian Suswono di sela acara Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP), Selasa (22/4/2014).

Dia menggambarkan, pada Maret 2014, harga cabai rawit merah di Sukabumi, Jawa Barat, kurang dari Rp20.000/kg, namun di pasar-pasar di DKI Jakarta mencapai Rp100.000/kg. Hal ini, paparnya, tidak wajar karena jarak kedua daerah tersebut relatif dekat.

Suswono menuturkan, pada 2104 ini kementerian menargetkan kebutuhan cabai rawit merah hanya 15% dari total ragam cabai yang sebanyak 1,75 juta ton, namun karena pergerakan harga komoditas cabai jenis ini terlalu fluktuatif, akhirnya juga mempengaruhi harga cabai dari jenis yang lain.

Namun, dia mengakui bahwa untuk menggencarkan urban farming tidak bisa cepat karena pemilik lahan tidak bisa mengakses bibit atau menangani hama. Untuk itu, kata Suswono, kementerian akan mengucurkan paket bibit Rp47 juta/kelompok warga yang disertai penyuluhan dari dinas terkait di masing-masing kota.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hortikultura cabai
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top