Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hingga Akhir Tahun, Industri Keramik Masih Melambat

Hingga akhir 2013, pertumbuhan industri keramik dalam negeri diperkirakan masih melambat seiring dengan perlambatan industri properti Indonesia.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 05 November 2013  |  20:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan industri keramik dalam negeri diperkirakan masih melambat hingga akhir 2013 seiring dengan perlambatan industri properti Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengatakan pertumbuhan tahun ini sebenarnya ditargetkan 10% atau naik dibandingkan tahun lalu yakni di sekitar hampir 8%.

Namun, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang awalnya ditargetkan 6,5% menjadi 5,5% cukup mempengaruhi industri properti yang berimbas pada industri keramik.

“Kami perkirakan sampai akhir tahun ini kondisinya sama dengan kuartal III/2013, tidak ada kenaikan. Tetapi diharapkan bisa tumbuh 10% atau minimal mendekati 10%,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (5/11/2013).

Meski begitu, katanya, total produksi keramik dalam negeri tahun ini meningkat tipis yakni 400 juta meter persegi, sedangkan tahun lalu produksinya hanya 380 juta meter persegi.

Peningkatan produksi tersebut dipacu oleh kebutuhan industri properti dalam negeri yang tumbuh tinggi pada semester I/2013.

Elisa mengungkapkan ekspor keramik pun mengalami penurunan. Pada tahun-tahun sebelumnya, produsen keramik mampu mengekspor rata-rata 20% dari seluruh hasil produksi, tetapi tahun ini menurun menjadi 15%.

Selain mengikuti perkembangan properti, pertumbuhan industri keramik juga dipengaruhi oleh biaya produksi yang terus naik seiring dengan kenaikan tarif dasar listrik dan gas sebagai energi.

“Tahun depan belum bisa kami prediksi karena akan mengikuti properti. Kalau dari segi energi kami berharap tidak ada kenaikan lagi yang mengganggu cost produksi, apalagi biaya untuk gas yang berpengaruh 20%-30% dari biaya produksi,” jelas Elisa.

Dia menambahkan, untuk bahan baku keramik seperti glasur juga masih harus diimpor lantaran untuk mendapatkan kualitas keramik tertentu.

“Dalam negeri sudah ada produsen glasur tapi memang tidak banyak, dan untuk kualitas yang bagus memakai galsur impor. Importasi glasur itu 90%, tetapi pengaruh glasur terhadap produksi hanya 10%-15%,” jelasnya.  (ra)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keramik industri keramik
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top