Bisnis.com, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia - Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja positif selama periode 2015-2024 atau dalam 10 tahun terakhir. Adapun tahun ini, perdagangan kedua negara mendapat sentuhan baru dari Donald Trump lewat kenaikan tarif hingga 32%.
Berdasarkan laporan Trade Map, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) mencatatkan surplus sebesar US$14,37 miliar pada 2024 atau naik 20,15% dibandingkan dengan surplus setahun sebelumnya yang sebesar US$11,96 miliar.
Secara tren, surplus neraca perdagangan antara Indonesia dengan Negeri Paman Sam cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir, meski nilainya sempat menurun pada 2018 dan 2023.
Surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS terus meningkat sejak 2019 hingga 2022. Jumlahnya pun menyentuh angka tertinggi dalam sedekade terakhir pada 2022, yakni mencapai US$16,56 miliar.
Sementara itu, Melansir dari Satudata Kementerian Perdagangan (Kemendag), pada 2020 nilai ekspor non-migas Indonesia ke AS berada pada angka US$18,62 miliar atau Rp308,8 triliun.
Nilai ekspor naik menjadi US$25,79 miliar atau Rp427,1 triliun pada 2021, pun dengan 2022, dimana ekspor non-migas dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam berada di angka US$28,18 miliar atau Rp466,6 miliar.
Baca Juga
Penurunan ekspor sempat terjadi di 2023 menjadi US$23,23 miliar, sebelumnya akhirnya naik kembali pada 2024, dimana ekspor non-migas ke AS mencapai US$26,31 miliar atau Rp435,7 triliun.
Menurut komoditasnya, surplus Indonesia dari AS paling besar dari mesin dan perlengkapan elektrik yang senilai US$3,69 miliar pada tahun lalu. Setelahnya ada pakaian dan aksesori rajutan senilai US$2,48 miliar.
Adapun pada tahun ini kondisi perdagangan Indonesia akan berbeda. Donald Trump telah menerapkan tarif balasan atau fair reciprocal tariffterhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Trump mengenakan tarif sebesar 32% terhadap impor barang dari Indonesia.
Sejak menjabat sebagai Presiden AS pada periode pertama, Trump memang dikenal sebagai pengusung konservatisme yang sangat populis dan proteksionis.
Dia menaruh kepentingan AS di atas segalanya. Meski demikian, kebijakan-kebijakan Trump yang cenderung protektif, justru memicu 'ketidakstabilan' di level global.