Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Stok Beras di Ritel Modern Langka, Aprindo Bongkar Penyebabnya

Aprindo menyebut stok beras premium ke ritel modern masih langka jelang lebaran 2024.
Ilustrasi stok beras langka di ritel modern./ BISNIS - Dwi Rachmawati
Ilustrasi stok beras langka di ritel modern./ BISNIS - Dwi Rachmawati

Bisnis.com, JAKARTA - Pasokan beras premium ke ritel modern masih langka jelang lebaran Idulfitri. Pengusaha ungkap biang keroknya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey mengakui bahwa pasokan beras premium ke ritel modern belum kembali normal. Sebagian stok merek beras premium dari produsen besar masih cenderung kosong di sejumlah gerai ritel.

Menurutnya, harga yang cenderung masih tinggi jadi biang kerok pasokan beras premium terbatas. Adapun saat ini, kata Roy, para produsen beras besar belum menurunkan harga jualnya lantaran panen raya yang diperkirakan mundur menjadi April 2024.

"Mereka [produsen] jual di atas HET karena mereka merasa mereka yang produksi dan memiliki beras," ujar Roy saat ditemui di Komplek Pergudangan Bulog Kelapa Gading, Senin (1/4/2024).

Adapun pemerintah sebelumnya telah merelaksasi HET beras premium di ritel modern menjadi kisaran Rp14.900 - Rp15.800 per kilogram. Namun, menurut Roy, relaksasi itu tidak serta-merta membuat pasokan beras premium berjalan lancar ke ritel modern.

Dia menduga bahwa sebenarnya para produsen beras besar merek familiar saat ini masih memiliki stok beras yang memadai. Kendati begitu, di sisi lain, para ritel masih dibatasi dengan ketentuan HET beras sehingga jual rugi dianggap bukan jadi pilihan.

"Ada dua macam, pertama peritel enggak mau beli [beras premium] karena mau menjaga marwah amanah HET. Tapi, ada yang mau enggak mau harus beli karena konsumen yang minta, tapi enggak mungkin kita jual di bawah atau sama dengan HET," ucapnya.

Oleh karena itu, dia pun menekankan agar pemerintah bisa lebih tegas mengatur harga dalam rantai pasok beras. Musababnya, kata Roy, ada banyak spekulan beras yang selama ini justru tidak tersentuh oleh aturan pemerintah.

"Perlu adanya level at the same field, untuk supaya yang besar-besar itu [produsen] juga di-touch [sentuh], jangan jadi untouchable [tak tersentuh aturan]," tutur Roy.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan puncak produksi beras akan terjadi pada April 2024 mencapai 4,9 juta ton. Menurutnya, siklus panen tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat puncak panen raya cenderung terjadi pada Maret. 

Adanya dampak El Nino sejak 2023 telah menyebabkan pergeseran panen raya padi pada tahun ini. Di sisi lain, harga beras pada pekan keempat Maret 2024 masih mengalami kenaikan 3,03% dibandingkan harga rata-rata pada Februari 2024. Kendati masih naik tipis, jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga beras pada pekan terakhir Maret cenderung sama dengan pekan sebelumnya.

Menyitir Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras premium hari ini turun 0,12% menjadi Rp16.240 per kilogram. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper