Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Impor Beras 1,5 Juta Ton dari China, Bulog Blak-blakan Soal Anggaran

Bulog bicara soal anggaran mengenai rencana Pemerintah Indonesia impor beras 1,5 juta ton dari China.
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah membuka opsi untuk melakukan impor beras sebanyak 1,5 juta ton dari China, sebagai dampak dari penurunan produksi akibat fenomena El Nino. 

Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Kelembagaan Perum Bulog Tomi Wijaya menyampaikan jika rencana tersebut dijalankan, ketersediaan dana nantinya akan menggunakan skema yang sama dalam pemenuhan cadangan pangan pemerintah (CPP) dalam negeri.

Skema tersebut melalui kredit atau pinjaman melalui Himpunan Bank Negara atau Himbara untuk memenuhi CPP tersebut.

“Kalau penugasan sama dengan skema penugasan dalam negeri,” katanya kepada Bisnis, Kamis (5/10/2023). 

Perum Bulog pun memang telah menjajaki potensi impor beras apabila kuota tambahan diperlukan di akhir tahun, salah satunya dari China.

Hal serupa juga terkonfirmasi oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi yang menyampaikan bahwa anggaran untuk pemenuhan CPP tersebut akan berasal dari dana milik Perum Bulog maupun pinjaman dari Himbara.

“Pendanaan Bulog dari cash yang mereka punya dan Himbara,” sebutnya.

Sebelumnya, Arief menyampaikan opsi tersebut muncul seiring produksi beras yang mengalami defisit hingga akhir tahun.

"Setelah November 1,5 juta ton [impor], pokoknya apapun kita kerjakan. Kalau memang kurang, kenapa enggak? Pilih mana punya stok atau tidak punya stok," kata Arief saat ditemui di Pasar Rawamangun, Rabu (4/10/2023).

Arief mengatakan impor beras akan dilakukan secukupnya untuk kebutuhan cadangan pemerintah dan stabilisasi harga. Penyerapan dari petani saat ini hampir sulit oleh Bulog lantaran harga yang sudah terlalu tinggi. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata belum memberikan respon terkait hal tersebut.

Sebagaimana diketahui, tidak sedikit dana yang dibutuhkan untuk memenuhi stok dan menstabilkan harga beras yang mengancam inflasi tersebut.

Halaman
  1. 1
  2. 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper