Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bisnis Coca-Cola dan Dampak Putusan WHO Soal Aspartam

Coca-Cola menggunakan aspartam sebagai bahan baku pemanis untuk sebagian besar produk minuman rendah kalorinya.
Diet Coke (Coca Cola), minuman kemasan yang mengandung pemanis buatan Aspartam./ Dok Bloomberg.
Diet Coke (Coca Cola), minuman kemasan yang mengandung pemanis buatan Aspartam./ Dok Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang akan mengumumkan Aspartam sebagai zat pemanis buatan yang berpotensi menyebabkan kanker, diperkirakan memberikan dampak terbatas kepada Coca-Cola.

Sekadar informasi, Aspartam merupakan pemanis buatan yang ditemukan di ribuan makanan yang diklaim bebas gula (sugar free), mulai dari minuman ringan hingga jeli dan permen karet. Aspartam akan dianggap "mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia" oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker WHO.

Adapun, Coca-Cola menggunakan aspartam sebagai bahan baku pembuatan produk minuman rendah kalori yakni Diet Coke. Praktis, apabila WHO memutuskan aspartam masuk dalam kategori penyebab kanker pada manusia, maka Coca-Cola perlu mencari bahan baku alternatif.

Seperti diketahui, produk rendah kalori seperti salah satunya Diet Coke menyumbangkan sepertiga dari total penjualan Coca-Cola pada 2022. Menariknya, sebagian besar produk rendah kalori yang dibuat oleh perusahaan tersebut menggunakan aspartam sebagai pemanis pengganti gula.  

Namun demikian, sejumlah analis menilai, apabila Coca-Cola terpaksa mengganti aspartam sebagai bahan bakunya nanti, tidak akan berdampak signifikan terhadap bisnis perseroan.

"Coca-Cola memiliki salah satu sistem produksi dan distribusi terbaik secara global... yang telah berhasil melewati banyak rintangan di masa lalu, seperti pajak gula dan formulasi ulang yang terkait dengan itu," kata Charlie Higgs, Associate Partner di Redburn Ltd.

Menurutnya, di masa lalu, pembuat minuman seperti Coca-Cola dan PepsiCo telah menyesuaikan komposisi bahan mereka untuk menyesuaikan dengan perubahan kebijakan yang berkembang.

Perusahaan-perusahaan tersebut pada tahun 2012 telah mengubah proses pembuatan pewarna karamel dalam minuman cola mereka untuk memenuhi persyaratan di California yang bertujuan untuk membatasi paparan orang terhadap bahan kimia beracun.

Sementara itu, Analis Pasar Conotoxia Ltd Grzegorz Drozdz mengatakan peralihan dari aspartam dapat memukul profitabilitas jangka pendek Coca-Cola. Namun dia tidak melihat penurunan tajam dalam pertumbuhan jangka panjangnya karena riwayat produksinya.

Namun, PepsiCo bisa mendapatkan keunggulan atas Coca-Cola karena sebelumnya telah beralih dari aspartam ke campuran sucralose dan acesulfame potassium.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper