Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Produk Es Krim Unilever Loyo saat Pendapatan Moncer, Kalah Saing?

Unilever disebut kehilangan pangsa pasarnya dikarenakan para konsumen mencari alternatif yang lebih murah akibat kenaikan harga yang besar.
Produk Ben & Jerrys, salah satu merek dari Unilever, dipajang di sebuah toko di Manhattan, New York City, AS, 24 Maret 2022./REUTERS/Andrew Kelly
Produk Ben & Jerrys, salah satu merek dari Unilever, dipajang di sebuah toko di Manhattan, New York City, AS, 24 Maret 2022./REUTERS/Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun mencatatkan kenaikan pendapatan di atas ekspektasi, penjualan lini produk es krim Unilever Plc anjlok pada kuartal I/2023.

Produsen barang konsumer asal Inggris mencatat penurunan volume penjualan secara keseluruhan sebesar 0,2 persen pada kuartal I. Namun, penurunan volume penjualan es krim lebih dari 4 persen. 

Dilansir dari Reuters pada Kamis (27/4/2023), Unilever disebut kehilangan pangsa pasarnya dikarenakan para konsumen mencari alternatif yang lebih murah akibat kenaikan harga yang besar untuk beberapa label terlaris di dunia. 

Harga es krimnya juga baik sebesar 10,5 persen pada kuartal I/2023, sehingga mendorong omzet sebesar US$1,9 miliar atau setara dengan Rp27 triliun. 

Chief Finance Officer Unilever Graeme Pitkethly mengatakan bahwa es krim adalah kategori paling bebas yang perusahaan miliki di semua kategori. 

"Kami memiliki volume negatif di penjualan dalam toko. Ketika konsumen berada di bawah tekanan, karena es krim lebih bebas, konsumen cenderung tidak memilih es krim," jelas Pitkethly mengutip dari Reuters, Kamis (27/4/2023). 

Selain itu, Pitkethly juga mengatakan bahwa bisnis eksternal atau 40 persen dari bisnis Unilever, berada dalam kesehatan yang sangat baik. Bahkan, perusahaan dapat mencatat pertumbuhan hingga dua digit dengan pertumbuhan volume satu digit. 

Neil Denman, fund manager Sarasin & Partners, mengatakan bahwa es krim berada di garis depan ancaman persaingan terhadap bisnis Unilever dan merupakan salah satu elemen yang lebih tidak stabil. 

Unilever, yang telah menghentikan beberapa es krim rumahan dengan profitabilitas rendah di Eropa, sedang mencoba untuk meningkatkan portofolionya dan memperluas pasar negara berkembang.

Di sisi lain, Unilever mencatatkan kenaikan pendapatan di atas ekspektasi pada kuartal I/2023, meskipun menaikkan harga jual sebagian besar produknya.

Dilansir dari Bloomberg, pendapatan Unilever tumbuh 10,5 persen menjadi 14,8 euro atau Rp240,5 triliun pada Januari-Maret 2023, jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan penjualan 7,6 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper