Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pemerintah Ingin Pasang PLTS 420 Gigawatt pada 2060, Butuh US$160 Miliar

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan target 420 gigawatt panel surya pada 2060. Proyek itu diperkirakan bakal menelan investasi senilai US$160 miliar.
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021)./ANTARA FOTO-Ahmad Subaidi
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021)./ANTARA FOTO-Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah merencanakan pemasangan 420 gigawatt solar photovoltaic atau panel surya pada 2060 sebagai bagian dari pengembangan energi terbarukan. Mega proyek itu membutuhkan investasi sekitar US$160 miliar.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam sesi panel di Paviliun Indonesia, Kamis (20/1/2023). Acara itu merupakan bagian dari agenda World Economic Forum (WEF) 2023 di Davos, Swiss pada 16—20 Januari 2023.

Arifin menyebut bahwa penggunaan solar photovoltaic (PV) atau panel surya dapat meningkatkan efisiensi untuk memproduksi keluaran tenaga yang lebih besar. Oleh karena itu, pemerintah berencana mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang besar.

"Kami merencanakan membangun 420 gigawatt [GW] solar PV yang akan terpasang pada 2060 dengan kebutuhan investasi tak kurang dari US$160 miliar," ujar Arifin pada Kamis (20/1/2023) waktu Davos.

Menurutnya, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) membutuhkan berbagai teknologi canggih, seperti sistem teknologi penyimpanan. Oleh karena itu, keberadaan investasi menjadi sangat penting.

Dia menyebut bahwa pemerintah pun akan mengacu kepada Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) Indonesia, yang di antaranya mencakup penciptaan 56 GW Battery Energy Storage System. Untuk mencapai itu, menurut Arifin, perlu dorongan inovasi dan perbaikan yang konstan.

"Butuh dana investasi yang sangat besar, lebih dari US$1 triliun sampai 2060. Kebutuhan dana makin besar saat pembangkit listrik tenaga batubara dihentikan lebih cepat dan digantikan dengan listrik EBT," ujar Arifin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper