Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SCI Ingatkan Dampak Resesi di Sektor Logistik

Supply Chain Indonesia (SCI) mengingatkan sektor logistik untuk tetap waspada dalam mengantisipasi dampak dari resesi global.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) memprediksi kontribusi sektor logistik terhadap PDB nasional akan meningkat pada 2022 hingga 2023. Kendati demikian, tidak berarti sektor tersebut akan menghadapi nihil tantangan di tengah ancaman resesi global.

Chairman SCI Setijadi memprediksi kontribusi sektor logistik terhadap PDB hingga akhir 2022 mencapai akan mencapai Rp957,9 triliun, atau meningkat dari Rp719,6 triliun pada 2021.

Selanjutnya, SCI juga memprediksi kontribusi tersebut akan menembus angka Rp1.090,2 triliun pada 2023. Kendati demikian, Setijadi mengingatkan adanya tantangan pada tahun ini yang juga bisa memengaruhi pemulihan sektor logistik.

"Indikasi pemulihan sektor logistik terjadi tidak hanya pada tingkat nasional tetapi juga pada tingkat regional dan global. Namun demikian, konsistensi pertumbuhan itu akan menghadapi tantangan pada tahun 2023 termasuk ancaman resesi," jelasnya melalui siaran pers, Selasa (3/1/2023).

Setijadi mencatat adanya tiga permasalahan yang harus diperhatikan oleh pelaku sektor logistik di Indonesia, dalam menyongsong pemulihan di tahun ini. Pertama, regulasi logistik yang sampai saat ini belum efektif termasuk implementasi Perpres No.26/2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas).

Kedua, biaya logistik yang masih tinggi dan perlu diupayakan peningkatan efisiensi pada proses transportasi, lantaran biayanya yang berkontribusi sekitar 70 persen dari biaya logistik total.

Ketiga, ancaman resesi dan ketidakpastian rantai pasok global. Setijadi menilai penguatan dan peningkatan terhadap efisiensi logistik serta rantai pasok diperlukan, terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

Selain penguatan, Setijadi menilai para pelaku usaha logistik perlu menerapkan risk management dan change management dalam menghadapi peluang maupun ancaman pada 2023.

Risk management sangat dibutuhkan untuk menghadapi tidak hanya ketidakpastian (uncertainty), namun juga gangguan (disruption) dalam rantai pasok, yang terjadi pada aspek pasokan, permintaan, operasional, dan lingkungan.

"Antisipasi harus dilakukan atas ancaman ketidakpastian dan disrupsi itu sebagai dampak Covid-19, ancaman resesi global, dan dinamika geopolitik global seperti perang Rusia-Ukraina," jelasnya.

Di sisi lain, change management diperlukan untuk menghadapi berbagai perubahan dan dinamika dalam rantai pasok global. Setijadi menyebut manajemen perubahan bisa dilakukan dengan merubah pola bisnis dan proses operasional baru, serta penerapan teknologi baru.

"Kolaborasi antar penyedia jasa logistik serta antara penyedia dan pengguna jasa logistik bisa menjadi salah satu strategi meminimalkan dan berbagi risiko [risk sharing] dan mengelola perubahan, termasuk dengan pemanfaatan teknologi informasi," jelasnya.

Adapun, SCI sebelumnya mencatat perkembangan positif sektor logistik Indonesia pada 2022. Berdasarkan data Badan Pusar Statistik (BPS), sektor transportasi (termasuk transportasi penumpang) dan pergudangan tumbuh secara konsisten dan tertinggi pada tiga kuartal pertama 2022, yaitu berturut-turut sebesar 15,79 persen, 21,27 persen, dan 25,81 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Dany Saputra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper