Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kabar Baik! Defisit APBN 2022 Diproyeksikan di Bawah 3 Persen

Simak pernyataan BKF Kemenkeu soal defisit APBN 2022 yang diramal berada di bawah 3 persen.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 08 Desember 2022  |  21:05 WIB
Kabar Baik! Defisit APBN 2022 Diproyeksikan di Bawah 3 Persen
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pengantar RUU APBN tahun anggaran 2023 beserta nota keuangannya pada pembukaan masa persidangan I DPR tahun 2022-2023 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8 - 2022). Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah meyakini bahwa defisit APBN akan berada di bawah 3 persen tahun ini, karena penerimaan yang sangat moncer dan kinerja ekonomi baik.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu usai rapat kerja Komisi XI DPR membahas Rancangan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU PPSK). Beleid itu telah disepakati oleh Komisi XI dan pemerintah.

Febrio menyampaikan bahwa pemerintah telah menurunkan proyeksi defisit APBN dari awalnya 4,5 persen menjadi 3,92 persen. Namun, melihat perkembangan terbaru, dia meyakini bahwa defisit akan lebih rendah lagi.

"Proyeksi terakhir pada Juli 2022 itu kan [defisit APBN] 3,92 persen. Saat ini kami melihat sangat besar peluang untuk defisitnya bisa di bawah 3 persen. Memang arahnya sangat baik," ujar Febrio pada Kamis (8/12/2022) petang.

Menurutnya, kinerja pertumbuhan ekonomi yang moncer sepanjang tahun berjalan menjadi salah satu alasan kuat dia yakin pertumubuhan ekonomi akan di bawah 3 persen. Selain itu, kinerja penerimaan negara pun memiliki prospek yang baik, terutama pajak.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa per Selasa (6/12/2022), penerimaan pajak telah mencapai sekitar Rp1.580 triliun. Jumlah itu telah melampaui target senilai Rp1.485 triliun sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) 98/2022.

Capaian itu memang sesuai perkiraan, karena pada Oktober 2022 penerimaan pajak telah mencapai Rp1.448,2 triliun atau 97,5 persen dari target. Jika menghitung rata-rata capaian per bulannya, target akan terlampaui setidaknya pada November 2022.

Lalu, Febrio pun menilai bahwa realisasi belanja negara akan mengikuti tren yang selama ini ada, yakni di atas 95 persen. Belanja yang tidak mencapai 100 persen dan penerimaan yang melampaui target otomatis akan membuat defisit APBN lebih rendah dari perkiraan.

Apabila proyeksi terbaru itu tercapai, pemerintah semestinya tidak kesulitan menjalankan mandat konsolidasi fiskal, yakni mengembalikan defisit APBN maksimal 3 persen pada 2023.

"Karena pertumbuhan ekonominya baik, penerimaannya juga sangat baik, jadi kami jadikan ini modal untuk, terutama untuk 2023," kata Febrio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit anggaran kementerian keuangan ruu ppsk Omnibus law keuangan
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top