Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Fariq Azzam Al Afif

Fariq Azzam Al Afif

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
email Lihat artikel saya lainnya

OPINI: Peluang Investasi di Tahun Gelap

Lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) memprediksikan ekonomi global tahun depan secara year-on-year akan
Bisnis.com - 06 Desember 2022  |  06:44 WIB
OPINI: Peluang Investasi di Tahun Gelap
Aktivitas pertambangan PT Alfa Energi Investama Tbk. - Alfa Energi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ujian datang silih berganti menerpa perekonomian Indonesia. Di saat efek pandemi masih terasa, kini ancaman ketidakpastian global sudah di depan mata.

Diproyeksikan perekonomian global tahun depan akan mengalami pertumbuhan yang lambat, bahkan beberapa negara di perkirakan resesi.

Lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) memprediksikan ekonomi global tahun depan secara year-on-year akan tumbuh tidak lebih dari 3%. Ini mengingat Uni Eropa dan Amerika pada kuartal ketiga tahun ini ekonominya hanya tumbuh di bawah 2,2%.

Konflik geopolitik Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak Februari telah mengganggu rantai pasokan energi ke Eropa yang berdampak terhadap naiknya beberapa harga komoditas. Efek ini terasa sampai ke Amerika Serikat, di mana inflasi di sana meningkat dan mengharuskan The Fed menaikkan suku bunga. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebagai respons atas meningkatnya inflasi umum secara tahunan di tahun ini.

Gejolak ekonomi global yang penuh ketidakpastian salah satunya akan berdampak terhadap sektor investasi, utamanya investasi asing yang masuk ke Indonesia. Di tahun depan diperkirakan akan terjadi perubahan struktur investasi asing di Indonesia, terutama dari sisi sektor investasinya. Jika berkaca pada tahun ini investasi asing yang masuk sampai kuartal ketiga paling banyak adalah di sektor manufaktur dengan industri makanan dan minuman di urutan pertama. Faktor pendorongnya karena harga minyak sawit di tahun 2022 trennya sudah menurun setelah di akhir tahun lalu sempat menginjakkan kaki di harga tertinggi sepanjang sejarah.

Berbeda dengan tahun ini, di tahun depan diprediksi akan terjadi perubahan struktur investasi di Indonesia. Jika di tahun ini Industri makanan dan minuman memperoleh investasi terbanyak, maka tahun depan dipastikan sulit terulang kembali. Ini mengingat industri makanan dan minuman masih sangat bergantung dengan impor bahan baku yang berasal dari Uni Eropa dan Amerika Serikat. Buktinya, di kuartal ketiga tahun ini skor Purchasing Manager Index (PMI) industri makanan dan minuman sudah mulai menunjukkan penurunan.

Artinya sudah terjadi penurunan ekspansi usaha di sektor tersebut. Kondisi ini akan menghambat eskalasi produksi industri makanan dan minuman itu sendiri, akibatnya investasi yang masuk ke sektor tersebut pun akan berkurang. Di sisi lain, Amerika Serikat juga menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar industri makanan dan minuman Indonesia.

Maka dari itu industri makanan dan minuman dari sisi input, output, dan distribusi akan menghadapi hambatan dari faktor eksternal. Oleh karena itu, sudah dipastikan di tahun depan industri makanan dan minuman akan mengalami perlemahan dan investasi yang masuk ke sektor tersebut pun akan berkurang.

SEKTOR PERTAMBANGAN

Berbeda dengan industri makanan dan minuman, di tahun depan sektor pertambangan dan turunannya diprediksi akan lebih menarik investor asing, terutama di komoditas nikel. Keseriusan pemerintah dalam mengerjakan program penghiliran nikel sepertinya sudah dapat terlihat di tahun ini, terutama setelah berlangsungnya event G20 di Bali. Pada event tahunan bergengsi tersebut terlihat komitmen nyata pemerintah dalam membangun sektor hilir dari komoditas nikel, yaitu dengan penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan iring-iringan para pemimpin negara dan para delegasi.

Event yang dihadiri negara-negara besar tersebut meningkatkan daya tawar Indonesia di mata asing. Salah satunya adalah daya tawar di program penghiliran nikel. Apalagi pemerintah terus berupaya agar program hilir dari komoditas nikel dapat berjalan dengan baik, sehingga dapat meningkatkan permintaan kendaraan listrik utamanya di dalam negeri. Upaya tersebut salah satunya dilakukan dengan mengeluarkan Inpres No. 7/2022 tentang kewajiban penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas di tingkat pemerintahan pusat maupun daerah.

Meskipun sampai saat ini peraturan tersebut masih kontroversi karena dianggap terlalu membebani anggaran pemerintah daerah, tetapi setidaknya dengan peraturan ini investor memperoleh gambaran capital gain berinvestasi di program penghiliran nikel di Indonesia.

Daya tarik program penghiliran nikel di Indonesia akan menopang Penanaman Modal Tetap Bruto di tahun depan, sehingga PMTB masih akan tetap tumbuh meskipun kondisi ekonomi global diprediksikan resesi. Meskipun tumbuh, tapi PMTB di tahun depan secara marginal akan mengalami perlambatan dari tahun sebelumnya. Selain itu, diproyeksikan kontribusi PMTB terhadap pertumbuhan ekonomi juga akan kembali ke posisi prapandemi, yaitu di posisi kedua setelah konsumsi rumah tangga, mengingat setelah 2 tahun terakhir posisinya digeser oleh net ekspor yang tumbuh sangat signifikan.

Prediksi meningkatnya Investasi yang masuk ke komoditas nikel dari mulai hulu sampai ke hilir akan memberikan multiplier effect terhadap peningkatan investasi ke sektor-sektor ekonomi yang terkait, seperti misalnya industri logam, industri mesin, industri kendaraan bermotor dan perdagangan besar (khususnya kendaraan). Maka dari itu, meskipun di tahun depan kondisi global dipenuhi ketidakpastian investasi dipastikan akan tetap resilien dari ancaman tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Resesi ekonomi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top