Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Suku Bunga BI Tinggi, Nasib Cicilan KPR Gimana?

Nasib para pejuang KPR (Kredit Pemilikan Rumah) pun menjadi pertanyaan lantaran naiknya suku bunga BI dapat membuat suku bunga KPR ikut meningkat.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  13:51 WIB
Suku Bunga BI Tinggi, Nasib Cicilan KPR Gimana?
Kepala Ekonom Josua Pardede di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin(5/12/2022). - Bisnis/ Ni Luh Angela
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada November 2022. Nasib para pejuang KPR (Kredit Pemilikan Rumah) pun menjadi pertanyaan lantaran naiknya suku bunga BI dapat membuat suku bunga KPR ikut meningkat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan masing-masing bank akan memiliki waktu penyesuaian yang bervariasi. Bank-bank dengan likuiditas yang cukup baik misalnya, transmisinya akan lebih lama dan lebih panjang, dan besarannya pun tidak akan sebesar kenaikan suku bunga BI.

Secara historikal, pada saat BI menaikkan suku bunga acuannya, penyesuaian suku bunga KPR akan berlangsung dalam dua hingga tiga kuartal. Artinya, jelas Josua, baru akan ada kenaikan dan penyesuaian suku bunga yang cukup signifikan kurang lebih di kuartal II/2023.

“Dampaknya kepada KPR kita perlu cermati bahwa ini tidak berlaku untuk yang eksisting. Jadi makanya yang udah menarik KPR sebelumnya, yang sudah biasanya kan dua tahun pertama itu masih fixed rate, jadi ini artinya nggak akan mempengaruhi juga buat masyarakat yang sudah menarik ataupun mengambil KPR tadi, masih dalam periode fixed rate,” kata Josua di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (5/12/2022).

Lebih lanjut dia menuturkan, ada perilaku yang sedikit berbeda jika melihat histori dua kali terakhir BI menaikkan suku bunga pada 2013 dan 2018.

Pada 2013 misalnya, saat taper tantrum, BI menaikkan suku bunga dan perbankan juga langsung melakukan penyesuaian terhadap suku bunganya. Namun, pada 2018, di saat BI menaikkan suku bunga acuannya, perbankan justru menurunkan suku bunganya.

“Jadi kita tidak bisa menarik simpulan bahwa kenaikan suku bunga ini akan bisa mendorong kenaikan suku bunga perbankan. Karena pada kenyataannya 2018 perbankan malah justru menurunkan suku bunganya,” jelasnya.

Oleh karena itu Josua menekankan, naik tidaknya suku bunga perbankan akan menyesuaikan kepada kondisi likuiditas dan risk appetite. 

“Kalau misalnya likuiditasnya aman, longgar dan juga risk appetite nya masih cukup baik itu tadi makanya penyesuaianya bisa lebih lama, dan besaran kenaikannya bisa lebih rendah dari suku bunga BI,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga suku bunga kredit suku bunga kpr Bank Indonesia kpr
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top