Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ancaman Resflasi Ekonomi, Indonesia Aman?

Resflasi merupakan gabungan dari resesi dan inflasi. Sederhananya, resflesi merupakan kondisi suatu negara yang mengalami resesi dan tingkat inflasinya tinggi.
Ilustrasi krisis keuangan global. /Freepik
Ilustrasi krisis keuangan global. /Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Resflasi atau resesi dan inflasi menjadi ancaman perekonomian yang mengemuka baru-baru ini dan menjadi perhatian secara global. Fundamental perekonomian suatu negara sangat berpengaruh terhadap ketahanannya menghadapi risiko resflesi.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyebut bahwa resflesi merupakan istilah baru yang mengemuka beberapa waktu terakhir. Istilah itu pun disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat di DPR, Senin (21/11/2022).

Menurut Aviliani, resflasi merupakan gabungan dari resesi dan inflasi. Sederhananya, resflesi merupakan kondisi suatu negara yang mengalami resesi dan tingkat inflasinya tinggi.

Dia menjabarkan resflasi terjadi jika inflasi menjadi penyebab negatifnya pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi resesi pada umumnya, penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi bisa beragam.

"Pertumbuhannya negatif itu akibat inflasi gitu lho," ujar Aviliani yang ditemui usai peluncuran buku Kawasan Ekonomi: Keberadaan, Peluang, dan Tantangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (22/11/2022).

Dia menilai bahwa Indonesia cenderung aman dari risiko resflasi. Alasannya, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang baik dan terjaga dari risiko resesi, sehingga tanpa terjadinya resesi Indonesia tidak akan mengalami resflasi.

Stuktur perekonomian Indonesia yang sangat bergantung kepada konsumsi domestik membuatnya cenderung tahan terhadap guncangan global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang akan melambat, tetapi tidak sampai negatif, sehingga relatif aman dari resesi.

Meskipun begitu, Aviliani menilai bahwa Indonesia tetap menghadapi risiko inflasi yang tinggi. Faktor eksternal menjadi pemicu utama, karena kebijakan Amerika Serikat memberikan tekanan besar terhadap perekonomian global, apalagi negara-negara berkembang.

"Inflasi tinggi itu kan pemicunya sebenarnya karena Amerika Serikat, dia kan mainnya cuma di moneter, nah, sedangkan negara seperti kita harusnya gak perlu di situ [moneter] tapi terpaksa menaikkan suku bunga karena aliran dana keluarnya kan tinggi," katanya.

Sebelumnya, Perry menyebut ada ancaman baru yang saat ini tengah membayangi gejolak ekonomi global, yakni resflasi. Pertumbuhan ekonomi global kemungkinan turun dari yang semula diprediksi di 3 persen, turun menjadi 2,6 persen pada 2023.

"Sekarang istilahnya adalah resflasi, risiko resesi dan tingginya inflasi,” kata Perry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senin (21/11/2022).

Tekanan inflasi dan inflasi inti global juga diprediksi masih tinggi hingga 2023. BI memperkirakan, tingkat inflasi dunia dapat menyentuh 9,2 persen (year-on-year/yoy) hingga akhir tahun, dan masih tinggi pada 2023 tapi akan mendingin ke 5,2 persen.

Tingkat inflasi yang tinggi ini terjadi lantaran berlanjutnya gangguan rantai pasokan dan pengetatan pasar tenaga kerja terutama di AS dan Eropa, di tengah pelemahan permintaan global.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper