Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Amburadul! Terminal JICT Masih Eror, Bisnis Logistik Merugi

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyebut layanan di JICT masih amburadul dan belum pulih sehingga menyebabkan kerugian pengguna jasa.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 18 November 2022  |  11:02 WIB
Amburadul! Terminal JICT Masih Eror, Bisnis Logistik Merugi
Truk melintas di kawasan pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) di Jakarta, Kamis (19/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Gangguan sistem operasi di Jakarta International Container Terminal atau JICT menyebabkan layanan pengeluaran dan pemasukan barang terganggu. Akibatnya, pelaku jasa logistik dan forwarder mengalami kerugian.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta menyebut kegiatan logistik di JICT yang terhambat akibat gangguan pada terminal operating system (TOS) telah berlangsung sejak kemarin, Kamis (17/11/2022).

Ketua DPW ALFI DKI Jakarta Adil Karim mengatakan salah satu kerugian yang dialami oleh pelaku logistik yakni masih berjalannya biaya penitipan atau inap kontainer (demurrage and detention), kendati operasional terminak tak berjalan lancar.

"Sebab seluruh biaya-biaya itu kini menjadi bengkak. Belum lagi kerugian [immaterial] di mana para petugas kami di lapangan antre menunggu layanan sejak kemarin hingga hari ini. Kami minta Manajemen Pelindo dan JICT jangan lepas tangan atas kondisi ini," kata Adil dalam siaran pers, Jumat (18/11/2022).

Adil juga menegaskan amburadulnya sistem layanan di JICT telah menyebabkan kerugian besar bagi pelaku usaha dan perekonomian nasional.

Untuk itu, dia mendesak Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok agar lebih proaktif dengan diskresi untuk bisa mengalihkan layanan kapal dari JICT ke terminal lainnya demi kelancaran arus barang.

"Jangan sampai kondisi seperti ini berlarut-larut. Ini bahaya untuk stabilitas perekonomian," ujar Adil.

Selain biaya inap kontainer, Adil mengungkap sejumlah kerugian yang dialami oleh pelaku logistik maupun pemilik barang akibat gangguang operasional di JICT. Contohnya, barang ekspor yang telah siap masuk pelabuhan terpaksa tidak bisa closing dan berisiko tertinggal kapal sehingga biaya ekspor membengkak.

Kemudian, barang impor juga yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang atau SP2 disebut tidak bisa keluar gate out terminal. Hal itu lantaran sistem di pintu keluar juga eror dan peti kemas harus terkena tambahan biaya storage di container yard (CY) terminal.

Adil mengaku sudah mendapat banyak pertanyaan dari anggota ALFI DKI lantaran pengapalan (shipment) sudah terkena closing. Dia menyebut jika tidak ada jawaban dan solusi dari pihak otoritas, pelaku usaha pun bimbang antara harus mengganti kapal, atau menunggu sampai pelabuhan berkembali beraktivitas secara normal.

Menurut Adil, sampai dengan pagi hari ini, Jumat (18/11/2022), pembuatan e-ticket di JICT bahkan tidak bisa dilakukan. Di sisi lain, belum ada keterangan dari manajemen terminal terkait dengan progres perbaikan sistem yang disebut error.

"Katanya bisa manual, tetapi faktanya banyak perusahaan anggota kami saat melakukan layanan pembuatan kartu ekspor maupun impor tidak bisa dilakukan, bahkan yang sudah memegang kartu ekspor ataupun impor di JICT juga tidak bisa melakukan pemasukan maupun pengeluaran barang. Ini sudah amburadul semua sistem layanannya kalau seperti ini," tegasnya.

Oleh sebab itu itu, Adil mendesak manajemen Pelindo, JICT, dan Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok untuk menempuh contingency plan yang lebih konkret lantaran pelayanan secara manual sampai dengan saat ini dinilai tidak mampu mengurai kepadatan yang terjadi.

Salah satunya, dengan mengalihkan sementara pelayanan ke terminal peti kemas lainnya di Pelabuhan Tanjung Priok. Harapannya, kegiatan perdagangan ekspor dan impor tidak terus terhambat dan menyebabkan biaya logistik pengguna jasa semakin membengkak.

"Kalau barang tidak bisa masuk dan keluar, maka layanan terminal sudah tidak berfungsi lagi, dan kami mendesak segera kapal dialihkan saja ke terminal lain yang lebih siap," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top