Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Tetap Resilient!

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap resilient saat dunia terancam resesi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) didampingi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (1/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) didampingi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (1/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan stabilitas sistem keuangan Indonesia pada kuartal III/2022 tetap resilient.

Hal itu diungkapkan oleh koordinator KSSK sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers daring pada Kamis (3/11/2022).

Dia mengatakan bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, dan Ketua Lembaga Penjamin Simpana (LPS) Purbaya Sadewa, KSSK sudah melaksanakan rapat berkala pada 27 Oktober 2022.

"Stabilitas sistem keuangan pada triwulan III/2022 tetap berada pada kondisi yang resilient. Kami berempat berkomitmen untuk menjaga stabilitas sistem kekuangan dengan memperkuat kordinasi dan terus mewaspadai perkembangan risiko global, termasuk di dalam menyiapkan respon kebijakan," ujar Sri Mulyani pada Kamis (3/11/2022).

Dia mengatakan kinerja dari perekonomian global terlihat melambat dengan risiko ketidakpastian yang tinggi.

Menurutnya, perlambatan ekonomi terjadi di sejumlah negara maju, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan China, tercermin pada PMI manufaktur global september 2022 yang masuk ke zona kontraksi pada level 49,8.

"Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan geopolitik dan perang di kawasan Ukraina yang memicu tekanan inflasi tinggi, fragmentasi ekonomi global, perdagangan dan investasi serta dampak dari kebiajkan moneter yang lebih agresif dari otoritas moneter di negara maju," imbuhnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakn kenaikan suku bunga Federal Reserve atau Fed Funds Rate (FFR) yang diperkirakan lebih tinggi dan siklus yg lebih panjang mendorong menguatnya mata uang dolar AS sehinga menyebabkan depresiasi terhadap nilai tukar di ebrbagai negara.

Sementara itu, perbaikan ekonomi domestik masih terus berlanjut dan ditopang dengan agregat demand sisi domestik.

"Konsumsi swasta yang kuat di tengah kenaikan investasi, investasi non bangunan yang meningkat serta kinerja ekspor yang masih terjaga," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper