Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bapanas Sebut Realisasi Impor Kedelai Capai 657.663 Ton

Bapanas melaporkan realisasi impor kedelai dari periode September-November 2022 telah mencapai 657.663 ton.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 02 November 2022  |  12:53 WIB
Bapanas Sebut Realisasi Impor Kedelai Capai 657.663 Ton
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menyampaikan realisasi impor kedelai dari periode September-November 2022 telah mencapai 657.663 ton.

Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan realisasi importasi tersebut agar menjaga kebutuhan bahan baku industri tahu-tempe dalam negeri. Realisasi impor kedelai tersebut dilakukan pihak swasta.

“Teman-teman swasta yang mengeksekusi. Total [impor] September sampai dengan November sebanyak 657.663 ton kedelai,” kata Arief saat dihubungi, Rabu (2/11/2022).

Arief mengatakan, realisasi impor tersebut lantaran kedelai produksi nasional masih belum mencukupi untuk kebutuhan industri dalam negeri. NFA mencatat produksi kedelai nasional pada 2021 sebesar 240.000 ton per bulan, sedangkan kebutuhan industri 250.000 per bulan.

“Sedangkan perkiraan stok kedelai nasional sampai dengan akhir 2022 berada di posisi surplus 250.000 ton, jumlah tersebut setelah melalui realisasi importasi,” ujarnya.

Dengan ketergantungan impor tersebut, Arief mengatakan NFA tengah mendorong implementasi Strategi dan Kebijakan Kedelai Nasional yang di dalamnya memuat Closed Loop Wajib Serap kedelai lokal.

“CPP Kedelai perlu diiringi penguatan di hulu melalui peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Produksi dapat ditingkatkan apabila ada kepastian harga jual dan harga beli. Kepastian tersebut salah satunya yang kami siapkan dalam closed loop ini,” ujarnya.

Arief mengatakan, sebagaimana amanat Perpres No.125 Tahun 2022, pemenuhan CPP tahap pertama akan berfokus pada komoditas beras, jagung, dan kedelai. Untuk tiga komoditas strategis tersebut pemerintah menugaskan Perum Bulog melakukan penyerapan dan penyaluran.

“Sesuai amanat Perpres No.125 Tahun 2022, kedelai menjadi salah satu komoditas prioritas dalam pemenuhan CPP tahap pertama. Pada pelaksanaannya, Bulog akan melakukan penyaluran kedelai bagi pengrajin tahu dan tempe serta meningkatkan serapan kedelai lokal,” jelasnya.

Dalam closed loop di atur Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) kedelai lokal di tingkat petani Rp10.775 per kg dan HAP kedelai di tingkat konsumen sebesar Rp12.000 per kg. Angka tersebut berdasarkan usulan perubahan HAP komoditas kedelai tahun 2022.

“Jadi melalui skema ini Bulog diminta membeli kedelai lokal dari petani dan menjual kepada Gakoptindo/Kopti dengan harga sesuai HAP. Diharapkan penetapan harga acuan tersebut dapat menstimulus minat para petani menanam kedelai dan menjaga keberlangsungan usaha produsen tahu-tempe,” ujarnya.

Selain menyerap kedelai lokal, Bulog juga menerima importasi kedelai apabila produksi dalam negeri tidak mencukupi. “Kedelai yang diserap oleh Bulog juga akan disimpan menjadi Cadangan Pangan Pemerintah untuk dijadikan instrumen pengendalian stok dan harga sepanjang tahun,” paparnya.

Dalam pelaksanaan skema wajib serap kedelai lokal ini, dia menjelaskan NFA melibatkan peran serta sejumlah kementerian/lembanga, seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian BUMN untuk penanganan aspek hulu, serta Kemenkop UKM dan Kementerian Perindustrian dari aspek hilir atau peningkatan industri/usaha koperasi tahu dan tempe.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai impor kedelai badan pangan nasional (BPN) harga kedelai
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top