Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pembatasan Covid-19 di China Dilonggarkan, Produk Mewah Hermes Diborong Pembeli

Hermes mengatakan pendapatan meningkat 24 persen menjadi 3,1 miliar euro (Rp47,3 triliun) pada kuartal kuartal III/2022.
Asahi Asry Larasati
Asahi Asry Larasati - Bisnis.com 20 Oktober 2022  |  18:39 WIB
Pembatasan Covid-19 di China Dilonggarkan, Produk Mewah Hermes Diborong Pembeli
Sylvania akan diproduksi di fasilitas California MycoWorks dan kemudian dikirim ke ateliers Herms di Prancis. - Hermes
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penjualan Hermes International meningkat karena konsumen sudah kembali memborong barang mewah di China setelah pembatasan Covid-19 dilonggarkan. Jenis barang yang paling banyak di beli, yakni tas Birkin dan Kelly.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (20/10/2022) pihak Hermes mengatakan pendapatan meningkat 24 persen menjadi 3,1 miliar euro (Rp47,3 triliun) pada kuartal kuartal III/2022 jika tidak memperhitungkan perubahan nilai tukar.

Peningkatan pendapatan tersebut melampaui proyeksi analis sebesar 15 persen. Adapun penjualan anak usaha Hermes yang memproduksi pelana kuda tumbuh 13 persen.

"Penjualan di China meningkat kuat, meskipun ada penutupan sementara karena tindakan sanitasi," jelas Hermes. Bahkan, pendapatan di kawasan Asia-Pasifik, tidak termasuk Jepang, naik lebih dari 30 persen.

Hal ini membuktikan sebagian besar produsen barang mewah tetap kebal terhadap tekanan pengeluaran karena krisis akibat biaya hidup yang meningkat.

Hermes mengungkapkan tujuan jangka menengahnya untuk pertumbuhan pendapatan terlepas dari ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan moneter di seluruh dunia.

Menurut Chief Financial Officer Hermes Eric du Halgouet, pemilik merek Louis Vuitton dan Christian Dior LVMH pekan lalu melaporkan penjualan barang fashion dan kulit jauh lebih baik dari perkiraan. Brand fashion yang berbasis di Paris ini juga diuntungkan oleh pembeli asal Amerika Serikat (AS) yang berbelanja barang mewah di Eropa.

Dia mengonfirmasi rencana grup peritel barang mewah tersebut untuk menaikkan harga produk di seluruh dunia antara 5 persen dan 10 persen pada 2023, dibandingkan dengan 4 persen pada 2022.

Pemilik merk Gucci, Kering SA, mengatakan akan mempublikasikan angka penjualan setelah penutupan perdagangan.

Selain itu, Hermes dianggap sebagai salah satu merek paling eksklusif di pasar barang mewah, dengan produksi tasnya dibatasi oleh keterbatasan kapasitas.

Bulan lalu Sotheby's menjual tas tangannya yang paling mahal, yakni Hermes Kelly yang terbuat dari kulit buaya, seharga 352.800 euro di sebuah lelang di Paris.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hermes
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top