Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Gabah Naik, Petani: Harga Produksi Melambung Akibat BBM

Biaya produksi beras yang dikeluarkan oleh petani jelas terdampak kenaikan harga BBM.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 06 Oktober 2022  |  00:29 WIB
Harga Gabah Naik, Petani: Harga Produksi Melambung Akibat BBM
Calon pembeli mengecek kualitas beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (3/10/2022). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Serikat Petani Indonesia (SPI) mengatakan situasi kenaikan harga gabah/beras saat ini memang dirasakan oleh para petani, namun hal ini terjadi juga akibat kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan petani akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Ketua SPI Henry Saragih mengatakan, terkait biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani, jelas terdampak akibat kenaikan harga BBM. Hal ini terutama mempengaruhi komponen-komponen yang menggunakan tenaga mesin maupun transportasi, seperti biaya traktor, pengairan, sampai biaya pemanenan.

“Begitu juga ke kenaikan biaya-biaya input produksi yang umumnya digunakan petani seperti fungisida, insektisida, pupuk,” ujar Henry kepada Bisnis, Rabu (5/10/2022).

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Rp4.450/kg, Gabah Kering Giling (GKG) Rp5.550/kg dan GKG Rp5.650/kg.

Berdasarkan laporan anggota SPI di beberapa daerah misalnya di Aceh Tamiang, saat ini harga gabah basah (GKP) di kisaran Rp5.200/kg. Sementara untuk beras (medium) di kisaran Rp11.000/kg, atau di kisaran Rp165.000 per goni ukuran 15 kg. Di Banyuasin, Sumatera Selatan saat ini harga gabah (GKP) di Rp4.500/kg, sementara untuk harga beras (medium) di Rp8.500/kg.

Dibandingkan bulan lalu, untuk harga GKP relatif mengalami kenaikan karena di bulan lalu berada di bawah HPP, sementara untuk beras turun Rp500/kg dibandingkan bulan lalu.

“Kendala yang dialami saat ini adalah akses ke lahan yang sulit karena tengah dilanda banjir, sehingga membebani biaya panen yang dikeluarkan petani,” tutur Henry.

Selanjutnya, di Pandeglang, Banten harga GKP di tingkat petani di kisaran Rp500.000 per kwintal atau Rp5.000/kg-nya. Dibandingkan bulan lalu, terjadi kenaikan yang cukup signifikan (bulan lalu harga GKP Rp400.000 per kwintal). Hal ini disebabkan karena belum musim panen, sehingga produksi terbatas.

Kemudian di Pati, Jawa Tengah harga GKP saat ini di kisaran Rp450.000 per kwintal atau Rp4.500/kg, sementara untuk harga beras (medium) di kisaran Rpp9.500/kg. Penurunan harga gabah dan beras tersebut disebabkan karena daya beli masyarakat yang rendah karena penurunan pendapatan.

“Hal ini disinyalir akibat dari produksi gabah yang tidak normal, karena petani tidak melakukan pemupukan secara maksimal. Saat ini harga pupuk mengalami kenaikan, seperti pupuk urea, ZA, dan sejenisnya,” tutur Henry.

Henry menyampaikan kenaikan harga gabah dan beras yang begitu cepat tersebut diperkirakan karena cadangan beras mulai menipis, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kendati mengalami kenaikan tetapi tidak secepat ini. Dia membeberkan catatan terkait kenaikan tersebut antara lain dikarenakan stok gabah dan beras yang terbatas, karena minimnya produksi padi.

Badan Pangan Nasional atau NFA mendata cadangan beras pemerintah atau CBP saat ini hanya mencapai 861.966 ton, lebih rendah dari kondisi normal sebanyak 1,2 juta ton - 1,5 juta ton.

“Situasi harga beras ini diperkirakan akan bertahan sampai bulan Januari 2023 nanti, dan sepertinya akan tetap tinggi ketika musim panen raya di awal November mendatang,” imbuhnya.

Selain itu, Henry menuturkan faktor lainnya yang turut berpengaruh adalah musim tanam antar wilayah yang tidak bersamaan.

Sementara itu, terkait produktivitas petani, menurut Henry pada dasarnya kondisinya bervariasi.

“Di daerah seperti Tuban, produktivitas panen petani cukp bagus, mencapai 9 ton/hektar. Sementara di wilayah lainnya seperti di Pati, Jawa Tengah, mahalnya harga pupuk non-subsidi mengakibatkan petani mengurangi pemupukan dan berpengaruh pada produksi,” ujarnya.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan pada September 2022 mengalami kenaikan, sebesar 1,49 persen menjadi 99,35. Meskipun mengalami kenaikan dalam 2 bulan terakhir, namun NTP Tanaman Pangan September 2022 masih di bawah standar impas (100). Nilai NTP Tanaman Pangan berada di bawah standar impas sejak Maret 2022

Dari data BPS tersebut juga dapat dilihat bahwa untuk subsektor NTP Tanaman Pangan terjadi kenaikan indeks lb (indeks biaya yang dikeluarkan oleh petani) sebesar 0,95 persen, yakni biaya konsumsi rumah tangga (0,95 persen) dan biaya produksi modal (0,96 persen).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Beras gabah nilai tukar petani
Editor : Hafiyyan
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top